Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Terinspirasi Samsung, Axis Yakin Tembus Posisi 3 Besar

Terinspirasi Samsung, Axis Yakin Tembus Posisi 3 Besar


- detikInet

Ilustrasi (axis)
Jakarta - Impossible is nothing. Kalimat itu memang jadi penyemangat untuk menggapai sesuatu yang kelihatannya hampir mustahil. Tapi memang, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Semangat itu pun coba diusung oleh Axis. Meskipun baru beroperasi sekitar empat tahun di Indonesia, namun anak usaha Saudi Telecom Company (STC) dan Maxis Communication itu yakin suatu saat bisa menguasai industri telekomunikasi di negeri ini.

"Ya, kami memang menargetkan posisi tiga besar," ucap Presiden Direktur & CEO Telekomunikasi Indonesia, Erik Aas, dalam roundtable discussion di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (20/3/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keyakinan itu diusung oleh Aas beserta timnya, mengingat pesatnya pertumbuhan jumlah pelanggan dan pendapatan yang dibukukan oleh Axis dari tahun ke tahun.

"Kami tahun lalu tumbuh 120% dengan jumlah pelanggan 17 juta. Tahun sebelumnya kami juga tumbuh 100%. Ini prestasi bagi kami, sebab, brand kami mulai kredibel di mata masyarakat di posisi keempat. Itu permulaan yang bagus untuk terus tumbuh," kata Aas, optimistis.

Dengan angka baru 17 juta pelanggan, Axis saat ini memang belum bisa dibandingkan dengan Telkomsel yang memiliki 105 juta pelanggan, Indosat 53 juta pelanggan, dan XL Axiata dengan 46,5 juta pelanggan.

Erik Aas pun mengaku realistis dengan target yang dicanangkan, mungkin tidak terjadi dalam waktu dekat. Dalam lima tahun pun ia belum bisa memastikan. Meski begitu, kata dia, segalanya bisa terjadi begitu cepat seiring perubahan tren telekomunikasi.

"Ada tiga indikator yang menjadi key point kami. Kepuasan pelanggan, produk yang terjangkau dan mudah dipahami pelanggan, dan kejujuran. Kami yakin kami bisa. Lihat, contohnya Samsung. Dulu market share mereka kecil, tapi sekarang jadi besar," papar Aas.

Keyakinan Axis tambah menggebu-gebu lagi setelah terjadi perubahaan kepemilikan saham. Kata Aas, STC telah meningkatkan kepemilikannya dari 51% menjadi 80%. Hal itu pun langsung berdampak pada besaran capital expenditure yang ditingkatkan menjadi Rp 1,6 triliun.

"Kami mendapatkan pembiayaan besar untuk mobile broadband 3G. Ditambah lagi, kami juga telah mendapatkan 2nd carrier untuk frekuensi kami. Ini memberikan kami kesempatan untuk sukses, sama seperti operator 3G lainnya," tandas Aas.

(rou/ash)







Hide Ads