Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Kuala Lumpur
Jalan Terjal Ekspansi e-Money
Laporan dari Kuala Lumpur

Jalan Terjal Ekspansi e-Money


- detikInet

Kuala Lumpur, Malaysia - Uang digital atau e-money merupakan salah satu layanan yang akan digenjot XL Axiata agar akses data tidak hanya berfungsi sebagai pipa penyalur saja, namun juga penghasil profit bagi perusahaan.

Namun seperti diakui oleh Director Technology, Content, and New Business XL, Dian Siswarini, untuk menuju ke arah situ tidaklah mudah.

"Kami masih dinilai sebagai ancaman oleh bank. Seharusnya kami bisa jadi business partner mereka, sebagai complementary," keluh Dian kepada detikINET, di kantor pusat Axiata, Kuala Lumpur, Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasar yang kami sasar adalah pasar microfinance yang masih belum tersentuh bank. Dari 250 juta pelanggan seluler, mungkin ada 240 juta yang masih unbankable," paparnya lebih lanjut.

XL saat ini masih belum memiliki cukup banyak pelanggan e-money. Dari nilai transaksinya pun masih sedikit. "Sebulan baru 3.500 transaksi," kata Dian.

Meski begitu, layanan e-money yang dipasarkan melalui brand XL Tunai, diyakini bisa tumbuh pesat suatu saat nanti, jika kebutuhan untuk penggunaan cashless semakin besar.

Dian pun yakin, sedikitnya 10% dari 46 juta pengguna XL akan beralih menggunakan e-money. Untuk menyasar pasar di luar pengguna XL, ada kemungkinan XL akan membuat produk dengan brand baru.

"Mungkin kita perlu ekspansi cross border dengan brand baru di luar XL Tunai," ungkapnya.

Perlu Katalis

Bagi sebagian besar masyarakat, tak mudah untuk mengubah kebiasaan berbelanja dengan uang tunai. XL pun menilai, perlunya katalis generator untuk mengubah kebiasaan dari cash based society menjadi cashless society based.

"Tapi sejak ada kasus perampokan di toko seperti Alfamart, orang jadi sadar perlunya e-money untuk mengurangi risiko uang cash," ujar Dian.

Faktor pemicu lain yang bisa membuat orang membutuhkan e-money adalah tersedianya banyak merchant untuk transaksi, serta keuntungan seperti mendapatkan potongan harga (diskon) dan bonus.

"Lalu idealnya, untuk melakukan pembayaran dilakukan lewat komunikasi NFC (near field communication) untuk touch and go. Jadi ponsel cukup disentuhkan ke mesin, sudah bisa untuk bayar," kata Dian.

"Tapi SIM card untuk teknologi NFC itu masih mahal, USD 16 (sekitar Rp 150 ribu). Sementara kartu SIM yang sekarang saja cuma terjual Rp 2 ribu. Rasanya dua tahun lagi baru bisa murah perangkat itu," tandasnya.

(rou/ash)





Hide Ads