"Kami tidak terburu-buru menjual menara. Kami dalam posisi mencari pembeli berkualitas, karena itu tidak ingin diuber waktu untuk menjual aset," ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi, di kantor Axiata, Kuala Lumpur, Malaysia.
Dijelaskan oleh Hasnul, prinsip XL dalam menjual menara adalah mendapatkan harga yang tinggi disertai servis berkualitas. "Kami akan menyewa kembali menara yang dijual itu, karena itu menginginkan pelayanan berkualitas," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berencana menjual menara karena ingin fokus pada bisnis inti, bukan karena cashflow. Kita ingin masalah menara diserahkan pada ahlinya seperti penyewaan tanah dan perijinan di daerah. Sebelum menara terjual, kita akan fokus mencari omset dari penyewaan ke pihak ketiga," ungkapnya.
Sebelumnya, tiga emiten yang bergerak di bisnis penyedia menara dikabarkan tengah mengincar menara milik XL. Ketiga perusahaan itu adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
Adapun nilai aset yang dilepas berkisar Rp 14 triliun β Rp 15 triliun untuk sebanyak 8.000 menara.
Pada 2008, XL juga pernah berkeinginan menjual menara miliknya tetapi tersandung krisis ekonomi global yang menghantam nilai tukar rupiah dan kemampuan membeli perusahaan penawar. Saat itu, Moratel telah keluar menjadi pemenang untuk aset yang ditawarkan.
(rou/ash)