"Kami punya visi menjadi regional champion di 2015 nanti," kata Dato' Sri Jamaludin Ibrahim, President and Group CEO Axiata Group Berhad, dalam jumpa pers dengan media dari Indonesia, di kantor pusat Axiata, Kuala Lumpur, Malaysia.
Visi ini coba diwujudkan sejak 2008 lalu, dimana Axiata mulai melakukan aksi korporasi dengan langkah merger dan akuisisi sejumlah operator di negara Asia, termasuk XL yang saat itu masih bernama Excelcomindo Pratama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski masih kalah dari sisi jumlah pelanggan, namun dari sisi revenue, Axiata sudah melampaui Singtel. Hal ini berkat XL yang memberikan kontribusi pendapatan cukup besar, 40% dari total pendapatan grup yang berjumlah USD 5 miliar.
"Saat Axiata belum masuk, XL cuma punya 2000 BTS. Namun setahun setelah diambil mereka, base station-nya langsung bertambah 2000 lagi, dan kini sudah punya 28.000 BTS dengan jumlah pelanggan 46 juta lebih," kata Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur XL Axiata.
Selain menancapkan kukunya di XL, Axiata yang mengoperasikan Celcom di Malaysia (11,6 juta pelanggan), juga memiliki anak usaha di sejumlah negara lain, seperti Hello di Kamboja (1,8 juta), Dialog di Sri Lanka (7,1 juta), Robi di Bangladesh (22,1 juta), Idea di India (105,2 juta), dan M1 di Singapura (2,1 juta).
"Saat ini kami tengah memasuki fase kedua dalam mewujudkan visi kami. Dalam fase ketiga nanti di 2015, kami harap kami sudah bisa mengalahkan Singtel di Asia dengan pertumbuhan revenue tiga kali lipat," kata Dato' Sri.
(rou/rns)