Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) curiga, pemicu penurunan Quality of Services (QoS) ini disebabkan kenakalan vendor jaringan dalam memenuhi service level agreement (SLA).
"Ya sekarang kan kita lihat, sinyal full tapi layanan buruk. Kita coba telusuri, ada algoritma yang mungkin diubah sehingga yang harusnya drop tapi di laporannya tetap bagus," keluh Anggota BRTI Heru Sutadi kepada detikINET, Jumat (3/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, ternyata layanan yang diterima konsumen amburadul," sesal Heru.
Menurutnya, kondisi ini tak bisa dibiarkan karena prinsip yang harus dipegang oleh operator adalah menjaga standarisasi perangkat.
"Kalau begini harus ada aturan tentang Quality Of Equipment (QoE) agar vendor abal-abal tidak mencurangi kualitas layanan," ketusnya.
Saat dikonfirmasi ke sejumlah vendor jaringan, seperti Ericsson, Huawei, dan lainnya, dropnya kualitas jaringan bukan semata-mata kesalahan vendor.
"Kami tidak berhak menjawab. Kita tunggu komentarnya operator saja. Kami fully commited to our customers dan kita bekerja sama sebagai mitra ," kata Vice President Marketing and Communication Ericsson Indonesia, Hardyana Syintawat
(rou/fyk)