Sarwoto juga dituding sebagai antek kapitalis dan antek neoliberal (lihat foto). Di situ juga ada tulisan yang mendesak untuk membubarkan kebijakan clusterisasi (pembatasan area penjualan pulsa) sekarang juga.
Ketika dikonfirmasi, Sarwoto menyebut tudingan itu seharusnya bukan diarahkan kepada dirinya dan Telkomsel, namun kepada distributor pulsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 100 orang pedagang pulsa yang mengatasnamakan perwakilan dari Paguyuban Pedagang Pulsa Indonesia menggeruduk kantor Telkomsel di Wisma Mulia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, sekitar pukul 10 pagi.
Mengenakan pakaian serba merah, para pedagang pulsa ini mendemo sistem clustering yang diperlakukan Telkomsel kepada mitra bisnis mereka dalam hal ini pedagang pulsa. Karena dianggap memberatkan para pedagang pulsa, mereka menuntut sistem itu dihapuskan.
Wahyu, perwakilan Paguyuban Pedagang Pulsa Indonesia (PPPI) menyebutkan, sistem clustering ini membatasi gerak-gerik para pedagang pulsa untuk berjualan. Ia mencontohkan, jika seorang pedagang pulsa berlokasi di Setiabudi, Jakarta, maka dia tidak bisa menjual pulsa elektronik di luar di wilayah atau cluster yang sudah ditentukan Telkomsel.
"Penjualan di luar cluster diperbolehkan sebesar 20 persen, sisanya 80 persen harus berjualan di dalam cluster sendiri. Ini memberatkan apalagi di Jakarta. Orang kan mobile pindah kesana kemari," keluh Wawan.
Sementara Togu dari PPPI berkata, sudah ada 150 counter pulsa yang gulung tikar dari 1.500 pedagang yang ada di Jabodetabek hingga saat ini.
"Mereka tetap bergeming. Kalau tujuannya memeratakan penjualan ke lapisan masyarakat, kenapa cuma kami yang dibatasi? Wajar saja kalau aksi ini kami bilang kapitalis karena buktinya penjualan pulsa di Carrefour, Indomaret, Alfamart, dan lainnya tidak dibatasi," ketus Togi.
(rou/fyk)