Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E Marinto mengaku belum tahu apa yang diinginkan para pedagang pulsa tersebut dalam aksi unjuk rasanya.
"Pastinya kayak apa ditanyain sama yang demo kali ya. Kalau dari orasinya cuma bilang hentikan hard cluster. Ya, kita terima dululah aspirasinya. Kita buka dialog," kata Aulia saat dikonfirmasi detikINET, Kamis (2/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenakan pakaian serba merah, para pedagang pulsa ini mendemo sistem clustering yang diperlakukan Telkomsel kepada mitra bisnis mereka dalam hal ini pedagang pulsa. Karena dianggap memberatkan para pedagang pulsa, mereka menuntut sistem itu dihapuskan.
Wahyu, perwakilan Paguyuban Pedagang Pulsa Indonesia menyebutkan, sistem clustering ini membatasi gerak-gerik para pedagang pulsa untuk berjualan. Ia mencontohkan, jika seorang pedagang pulsa berlokasi di Setiabudi, Jakarta, maka dia tidak bisa menjual pulsa elektronik di luar di wilayah atau cluster yang sudah ditentukan Telkomsel.
"Penjualan di luar cluster diperbolehkan sebesar 20 persen, sisanya 80 persen harus berjualan di dalam cluster sendiri. Ini memberatkan apalagi di Jakarta. Orang kan mobile pindah kesana kemari," keluh Wawan.
Aksi ketidakpuasan ini bukan sekali saja ditunjukkan oleh para pedang pulsa yang menjadi ujung tombak pemasaran Telkomsel. Ketika dikonformasi apakah keluhan para frontliner ini akan mempengaruhi kinerja Telkomsel, Aulia enggan mengomentari.
"Sekecil apapun demo kita akan perhatikan. Ya kita dialog dulu saja, dialog dulu baru cari solusinya," tandas juru bicara Telkomsel.
(rou/fyk)