Menurut Direktur Penjualan Axis Syakieb A Sungkar, tarif murah hanyalah positioning atau langkah awal dari operator untuk masuk ke pasar yang sudah keras persaingannya.
"Setelah perusahaan ini mature dan memiliki skala ekonomi yang ideal di industri, pelan-pelan kita akan berbicara layanan yang premium," ungkapnya di sela diskusi akhir tahun di Hotel JW Marriott, Jakarta, Rabu (7/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat operator memiliki volume pelanggan yang sesuai dengan skala ekonomi tertentu, itu lebih mudah bernegosiasi tidak hanya dengan operator terkait interkoneksi, vendor soal pembelian perangkat, tetapi juga perbankan untuk pembiayaan," katanya.
Diungkapkannya, kondisi yang terjadi saat ini di industri telekomunikasi Indonesia adalah terlalu banyak operator, yang berujung pada penurunan pada tarif dan EBITDA (Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization).
"Satu-satunya cara untuk selamat adalah adanya cost leadership dan efisiensi. Langkah Axis sudah tepat selama ini untuk berkembang karena efisensi sudah dijalankan mulai dari pengembangan infrastruktur dan SDM (sumber daya manusia)," katanya.
Berdasarkan catatan, Saudi Telecom Company (STC) sebagai induk usaha memiliki komitmen US$ 2 miliar untuk mengembangkan Axis, dimana separuhnya atau US$ 1 miliar di antaranya dialokasikan untuk mengembangkan layanan data.
Sejauh ini, Axis sudah menghabiskan US$ 300 juta untuk pengembangan data. Sisanya sebesar US$ 700 juta akan diinvestasikan dalam jangka waktu 8 bulan ke depan mulai November 2011.
Dana US$ 300 juta itu juga sudah digunakan untuk memodernisasi infrastruktur jaringan, termasuk membangun BTS dan penyediaan 5 ribu menara yang tengah dibuka tendernya sejak Oktober lalu.
Huawei rencananya akan menyediakan 5.000 BTS untuk Axis hingga 2013 yang menelan investasi US$ 500 juta, sementara Ericsson membangun 1.000 BTS hingga akhir 2012 dengan investasi US$ 60 juta.
Saat ini Axis memiliki sekitar 15 juta pelanggan. Pendapatan perusahaan di kuartal III/2011 naik 267,9 % menjadi Rp 943,37 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu. Sekitar 30 persen dari omset dipasok oleh layanan data. Pada 2012 kontribusi jasa data diharapkan meningkat menjadi 35% hingga 40%.
"Layanan data masih memiliki potensi yang besar, karena itu akan kami geber terus. Axis tidak menginginkan adanya perang tarif di layanan data ini. Kami hanya melakukan penetrasi pasar sesuai dengan langkah dari awal kala memasuki pasar seperti yang saya paparkan tadi," kilahnya.
(rou/ash)