Demikian dikatakan Ross Gan, Wordwide Head Corporate Communication, Public Affairs & Communication Huawei di sela ajang ITU Telecom World yang berlangsung di Jenewa, Swiss.
"Jumlah vendor handset memang sudah menyesaki pasar, namun bukan berarti pasar hanya dikuasai pemain besar. Peluang untuk berkembang itu masih tetap ada," tukasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah perbaikan pun coba dikerjakan lini bisnis ponsel Huawei. Yang paling tergress adalah merekrut kepala desain perangkat device anyar di kisaran 6 bulan lalu.
"Saat ini pengembangan yang kami kerjakan masih dalam proses, tentu ini perlu waktu," lanjut Ross.
Ross pun menegaskan jika pasar ponsel memiliki beberapa lapisan. Mulai dari yang kelas premium hingga yang berada di level menengah ke bawah, serta korporat. Nah, inilah yang kadang kerap dilupakan banyak pihak.
"Smartphone tidak cuma untuk kalangan pebisnis yang membutuhkan perangkat sophisticated dan mahal. Pangsa pasar grassroat sejatinya juga menyimpan peluang besar. Termasuk untuk kalangan perusahaan seperti restoran yang membutuhkan gadget untuk aktivitas keseharian karyawan mereka," imbuhnya.
Nah, segmen inilah yang menjadi salah satu bidikan utama Huawei. Strategi yang diusung pun coba mengembangkan perangkat yang terjangkau, di sisi lain tak menyampingkan sisi kemajuan teknologinya.
"Oleh karena itu saya percaya jika selalu banyak ruang untuk pemain di industri ponsel ini. Hanya saja mungkin kami masih perlu belajar lagi," tukas Ross.
Huawei sendiri pada tahun 2011 telah mengalokasikan USD 2,5 miliar untuk keperluan research & development (R&D). Dimana lebih dari 46% karyawan Huawei beraktivitas di bagian R&D yang memiliki misi untuk mencari inovasi baru bagi perusahaan.
Mereka bertugas di 20 pusat R&D di seluruh dunia. Mulai dari Swedia, Jerman, Prancis, Italia, Rusia, India, AS, hingga Kanada.
"Kami bukan perusahaan yang mengandalkan pemasukan dari paten. Namun lebih mengusung filosofi untuk berjalan secara harmoni dengan industri," Ross menandaskan.
(ash/rns)