Menurut data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), saat ini jumlah telepon seluler di Indonesia sudah mencapai kurang lebih 200 juta SIM card. Kemudian jika dikurangi dengan nomor hangus atau churn rate industri sekitar 25% maka ada sekitar 159 juta SIM card yang aktif.
Menurut Ketua Umum Mastel, Setyanto P Santosa, dari jumlah tersebut jika setiap orang rata-rata memiliki 1,2 SIM card telepon, maka jumlah pelanggan telekomunikasi sebenarnya akan berkisar 125 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setyanto menilai, kondisi ini seharusnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk menggandeng industri telekomunikasi dan perbankan untuk menggerakkan perekonomian secara lebih efisien dan efektif dengan mobile payment.
Menurut Direktur Riset Gartner Inc, Sandy Shen, negara-negara yang memerlukan alat pembayaran lewat ponsel alias mobile payment justru datang dari negara berkembang seperti Indonesia.
"Sebab, di negar berkembang, saat ini masih banyak konsumen yang tidak dapat menjangkau layanan perbankan. Ini dikarenakan, institusi perbankan dihadapkan pada kendala besar dalam membuka kantor cabang di wilayah-wilayah terpencil," kata dia.
Data riset Gartner menyebutkan, wilayah Asia PasifikΒ menjadi pengguna terbesar layanan mobile payment. Sejak 2009 lalu, Asia Pasifik sudha menjadi pengguna mobile banking terbesar dengan angka 70,2 juta pengguna mobile payment.
Angka itu diperkirakan akan meningkat hingga 54,5% menjadi 108,6 juta di akhir 2010, sehingga pengguna mobile payment akan mewakili 2,1% pengguna seluler.
Bahkan di tahun 2014, menurut Global Mobile Payment Forecast, akan terdapat 622 juta pengguna mobile paymet di Asia Pasifik dengan jumlah transaksi lebih dari 62 miliar.
Sementara dari segi transaksi, mobile payment di Asia Pasifik akan berkembang dan mencapai US$ 316 miliar dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (Compund Annual Growth Rate/CAGR) 94,1%.
(rou/rns)