First Media Masih Waswas Jualan Wimax

First Media Masih Waswas Jualan Wimax

- detikInet
Kamis, 17 Feb 2011 18:39 WIB
Jakarta - Internet pita lebar 4G Wimax seharusnya sudah dikomersilkan First Media awal 2011 ini melalui unit bisnisnya, Sitra Wimax. Namun karena satu dan lain hal, perusahaan yang di bawah naungan Group Lippo itu masih waswas untuk memasarkannya.

"Sulit bagi kami untuk fully commercial saat ini. Kendalanya ada di perangkat," keluh Dicky Moechtar, Wakil Dirut First Media, kepada detikINET di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (17/2/2011).

"Kami ingin menyediakan layanan yang murah dan affordable. Tapi kalau kondisinya seperti ini, perangkat yang jarang bisa membuat cost jadi mahal," lanjut dia.

Sebelumnya, First Media melalui Sitra WiMax telah memberikan uji coba gratis kepada seribu pengguna di Lippo Karawaci, BSD Serpong, Cinere dan Kelapa Gading. 

Perusahaan ini menargetkan kala melakukan komersialisasi resmi bisa meraih 150 ribu pengguna. Rencananya dana sebesar Rp 1 triliun disiapkan untuk pengembangan jaringan. Pada tahun 2011 ini, jaringan tadinya juga akan dikembangkan ke Medan dan Aceh sesuai lisensi broadband wireless access (BWA) yang dimenangkan lewat tender.

Namun sekali lagi, Dicky merasa pesimistis rencana itu bisa berjalan karena
keharusan menggunakan teknologi Wimax 16d untuk layanan nomadic/tetap.

"Saat ini kami masih menggunakan 16d. Namun jika pemerintah ingin layanan ini berkembang, harusnya pemerintah realistis. Seharusnya kami dibebaskan saja untuk memilih," keluhnya.

Dengan mandeknya komersialisasi Wimax, beredar rumor bahwa First Media mulai melirik standard perangkat 16e yang bisa digunakan untuk mobile. Namun kabar itu buru-buru dibantah oleh Dicky.

"Itu tidak benar. Kami masih menggunakan 16d. Namun kalau mau realistis ya pemilihan teknologi seharusnya dibebaskan. Dengan lifestyle saat ini, tentu orang akan lebih suka mobile. Wimax ini kan wireless, alternatif untuk lastmile cable," kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyatakan akan melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) terhadap Sitra Wimax sebelum secara resmi mengkomersialkan layanannya.

"Kami pasti akan melakukan Coklit walau Sitra Wimax sudah memiliki sertifikasi Uji Laik Operasi (ULO). Ini untuk mengklarifikasi isu yang selama ini berkembang kalau operator itu menyelenggarakan Wimax 16e dengan menggunakan perangkat tidak sesuai standard," tegas Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kominfo Muhammad Budi Setyawan.

Seperti diketahui, teknologi Wimax terdiri dari  dua standar yang berbeda sama sekali. Pertama, menggunakan 802.16d (16d) untuk Fixed atau Nomadic Wimax dengan teknik modulasi  Orthogonal Frequency Division Multiplex (OFDM).  Kedua, 802.16e (16e) untuk Mobile dan Nomadic Wimax.

Indonesia mengadopsi 16d untuk membangkitkan manufaktur dalam negeri karena penyedia perangkat global lebih banyak bermain di 16e. Perusahaan lokal yang bermain di perangkat Wimax adalah anak usaha Indonesian Tower, PT Teknologi Riset Global (TRG) dan PT Hariff Daya Tunggal. Sitra Wimax dikabarkan membeli perangkat milik Huawei dan ZTE yang mengusung 16e.

Iwan menjelaskan, sejauh ini untuk pemenang tender BWA pada dua tahun lalu standar yang ditetapkan oleh pemerintah masih 16d. Namun, jika ada pelaku usaha yang berminat bermain di 16e, bisa mengikuti tender spektrum 2,3GHz selebar 60 MHz yang akan dilaksanakan tak lama lagi.

"Sisa frekuensi di spektrum tersebut bisa melalui proses lelang atau price taking," jelasnya.
(rou/rns)