Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Istana Bisa Perintah Gubernur Lewat Telepresence

Istana Bisa Perintah Gubernur Lewat Telepresence


- detikInet

Jakarta - Teknologi mulai jadi tulang punggung utama untuk menunjang aktivitas kepresidenan di Indonesia. Buktinya, istana negara mulai mengimplementasikan teknologi telepresence yang akan terhubung dengan seluruh kantor gubernur di tiap propinsi.

Meskipun belum rampung seluruhnya, namun teknologi telepresence yang dibangun oleh Telkom bersama mitra vendornya sudah mulai direalisasikan. Demikian menurut Executive General Manager Telkom Divisi Enterprise Service, Abdus Somad Arief.

"Tahun ini Telkom membangun komunikasi tercanggih yang disebut telepresence di istana. Rapat jarak jauh serasa berhadapan langsung. Dibangun terhubung dengan empat kota propinsi sebagai langkah awal," ungkapnya kepada detikINET di Jakarta, Jumat (19/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Empat kota propinsi yang disebutkan oleh pria yang akrab disapa dengan panggilan Asa ini adalah Mataram, Banda Aceh, Pontianak dan Palu. Kota-kota ini sengaja dibangun lebih dulu, karena menurut Telkom, tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding di Pulau Jawa.

"Semuanya sudah sempat terpasang dan uji fungsi berhasil dengan baik. Tapi karena ruangan di beberapa kantor Gubernur masih perlu rehab, posisi saat ini beberapa masih menunggu. Namun dalam bulan ini juga semua akan ready. Kalau di istana sudah rampung 100%," jelasnya.

Jauh Lebih Bagus

Telkom, menurut penuturan Asa, selalu menjadi penunjang utama dalam menyediakan infrastruktur telekomunikasi di istana negara. Di era sebelum 2003, Telkom sudah hadir dan menugaskan operator di istana meski hanya menyediakan akses teleponi.

"Mulai 2003, Telkom memperluas layanan dengan memasuki era konektivitas komunikasi data. Telkom membantu membangun fiber optic antar gedung di dalam istana," demikian ia mulai bercerita.

"Kemudian, 2003-2005 Telkom mulai mendukung layanan akses internet dan konektivitas lainnya untuk istana presiden maupun wapres. Kurun itu juga Telkom membangun hub satelit di istana untuk keperluan komunikasi data seperti broadcasting service dan lainnya," lanjut dia.

Pada rentang 2005-2009, Telkom lebih memperluas lagi dengan layanan video conference (vicon), portal, online service dengan kementrian dan jajarannya, serta aplikasi-aplikasi perkantoran.

Baru kemudian di 2010 ini, Telkom membangun komunikasi dengan telepresence di istana untuk rapat jarak jauh. Asa menjelaskan, rapat dengan telepresence benar-benar terasa nyata layaknya sedang bertatap muka langsung karena telah dirancang sedemikian rupa.

"Environment atau ruangannya di-setting sehingga sinkron satu sama lain. Ukuran gambar orang dibuat 1:1, high definition, dan eye contact. Beda dengan video conference atau vicon sebelumnya. Kalau vicon hanya sekedar bisa saling lihat, tidak ubah seperti nonton televisi. Itu bedanya," papar Asa.

Ubah Paradigma ICT

Dengan kualitas yang jauh lebih tinggi, telepresence lanjut dia juga membutuhkan kapasitas jaringan yang tidak kecil. Tidak seperti komunikasi melalui vicon yang biasa digunakan.

"Teleprensence juga membutuhkan jaringan dengan kapasitas jauh lebih besar, sekitar 15 kali yang dibutuhkan vicon, dengan kualitas yang juga harus lebih bagus. Jaringan Telkom terbukti sangat siap untuk layanan ini, even yang di luar Jawa sekalipun," tegasnya.

Asa juga ingin membuktikan bahwa jaringan Telkom juga mampu menangani kebutuhan yang sangat penting. Misalnya, saat lawatan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia, belum lama ini.

"Untuk support Obama visit kemarin, di istana dan titik-titik yang didatangi Obama seperti UI, Istiqlal, dan TMP Kalibata walaupun tidak jadi dikunjungi, seluruhnya Telkom yang sediakan. Total 10x100 Mbps internet access dan 60 sambungan telepon. Semuanya syukur beroperasi dengan excellent," kata dia.

Untuk membangun teknologi telepresence di istana dan seluruh kantor propinsi, serta kantor kementerian dan titik-titik penting lainnya, Asa sendiri menolak untuk membeberkan nilai investasi yang telah dan akan dikeluarkan Telkom. "Biaya tidak perlu kami sebutkan karena bisnis model yang ditawarkan sudah irrelevant terhadap investasi," begitu katanya.

"Telkom hanya ingin mengubah paradigma ICT (teknologi informasi komunikasi) di pemerintahan. Kami menyediakan semua perangkat dan network, ready to use anytime, pelanggan tidak perlu investasi, tapi cukup membayar sesuai penggunaan. Menarik kan? Ini adalah dedikasi Telkom untuk mendorong kemajuan ICT khususnya di jajaran pemerintahan," tandas dia. (rou/ash)







Hide Ads
LIVE