Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Investasi Berharga untuk Kedaulatan Bangsa

Investasi Berharga untuk Kedaulatan Bangsa


- detikInet

Jakarta - Telkom mengalokasikan dana Rp 10 miliar untuk membangun infrastruktur jaringan telekomunikasi di area perbatasan Indonesia dengan sejumlah negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, Timor Leste, Papua, dan Australia.

"Investasi yang kami keluarkan kecil, cuma sekitar Rp 10 miliar. Tapi bandingkan dengan dampaknya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tak terhingga nilainya," kata Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah kepada detikINET di Jakarta, Rabu (4/8/2010).

Meski dari kacamata bisnis diakui tidak menguntungkan, Telkom tetap akan membangun akses jaringan telekomunikasi berbasis suara dan data internet dengan jaringan pita lebar di 12 titik terluar perbatasan antara Indonesia dengan sejumlah negara tetangga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Eddy Kurnia, VP Public and Marketing Communication Telkom, pihaknya telah memenuhi komitmen untuk menyediakan layanan telekomunikasi di pulau-pulau terluar Indonesia sejak 2007 lalu. Langkah ini melanjutkan apa yang sudah dirintis Muhammad Awaluddin saat menjabat EGM Telkom Divisi Regional I Sumatera.

Pulau tersebut antara lain Pulau Natuna yang terluar di Indonesia, serta Pulau Miangas yang berbatasan dengan Filipina dan Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura. "Setidaknya ada 12 titik wilayah terluar lain yang menjadi target pembangunan infrastruktur Telkom tahun ini," kata Eddy.

12 titik itu adalah Pulau Marore, Pulau Marampit (perbatasan Filipina), Pulau Sekatung (perbatasan Vietnam), Pulau Tapeh dan Pulau Batek (perbatasan Timor Leste), Pulau Rondo (luar Aceh), Pulau Berhala, Pulau Fani, Pulau Fanildo, dan Pulau Bras (perbatasan Papua), Pulau Dana (perbatasan Australia), dan Pulau Sebatik (perbatasan Malaysia).

Eddy menegaskan, tersedianya layanan telekomunikasi di pulau-pulau tersebut sangat penting, mengingat posisi beberapa pulau terluar secara geopolitik sangat strategis.Β  "Pulau terluar maupun daerah perbatasan dengan negara lain secara tidak langsung merupakan simbol kedaulatan bangsa," ujarnya.

Menurut catatan Telkom, Indonesia memiliki 66.778 desa. Namun, dari jumlah tersebut, kata Eddy, baru sekitar 23.759 atau 36% di antaranya yang sudah terjangkau layanan telekomunikasi.

"Kehadiran Telkom di pulau terluar dan wilayah terpencil semata-mata sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, karena apabila dilihat dari hitungan bisnis, pengoperasian fasilitas telekomunikasi di lokasi-lokasi tersebut tidak menguntungkan," tandasnya.

Broadband Village

Jaringan yang dibangun Telkom di area perbatasan, ternyata bukan hanya jaringan teleponi dasar biasa. Namun, sudah full access broadband. Contohnya, saat Telkom membangun desa cyber di sebuah perkampungan yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia. Desa ini kemudian dinamakan Sebatik Broadband Village (SBV).

Sebatik, nama yang digunakan untuk SBV, diambil dari nama pulau kecil yang terletak di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Pulau ini berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah, Malaysia.

SBV merupakan konsep rancangan pengembangan area berbasis TIME (Telecommunication, Information, Multimedia dan Edutainment) sebagai bentuk Corporate Sosial Responsibilty Telkom yang melibatkan Pemerintah Daerah setempat serta Yayasan Pendidikan milik Telkom.

"Bentuk implementasi Broadband Village antara lain merupakan pusat pelatihan internet Broadband Learning Centre, penyediaan hotspot di titik strategis dan ramai di perbatasan dengan Malaysia, serta situs untuk memberdayakan potensi serta komunitas masyarakat melek internet di Sebatik," papar Eddy.

Melalui SBV diharapkan tingkat kepedulian masyarakat Sebatik terhadap penggunaan internetΒ  serta pemanfaatannya menjadi terarah dan terutama kaitannya dengan isu perbatasan negara. Kata Eddy, masyarakat setempat dapat memanfaatkan layanan seperti e-commerce Mojopia lewat plasa.com, serta Pesona Edu untuk pendidikan.

Telkom di kawasan Sebatik dan Nunukan saat ini telah menghadirkan beberapa layanan komunikasi data internet beserta nilai tambah lainnya, baik yang bersifat mobile maupun terbatas, seperti Speedy, Flexi, dan layanan seluler melalui Telkomsel.

Dengan tersedianya akses internet pita lebar, masyarakat setempat akan lebih mudah untuk pencarian informasi berita, messaging (email, chatting), social networking (Facebook, Twitter), transaksi (e-banking, e-commerce), serta edutainment (konten pendidikan dan hiburan).

Pulau Terdepan

Sebagai pulau terdepan Indonesia, Sebatik tentu pegang peranan penting. Kecamatan yang terdiri dari empat desa swasembada Tanjung Karang, Tanjung Aru, Pancang, dan Sei Nyamuk ini, memiliki jumlah penduduk 20.283 jiwa dan menjadi kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Kabupaten Nunukan.

Daerah ini memiliki potensi utama di bidang pertanian, perkebunan, dan perikanan. Adapun yang dihasilkan dari potensi kawasan ini antara lain padi, pisang, kakao, ikan teri dan udang.

Selain potensi alam di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan, Kecamatan Sebatik juga memiliki potensi pariwisata yang sangat menarik, yakni Pantai Batu Lumampu yang memiliki panorama laut lepas menghadap ke Blok Ambalat, dengan garis pantai yang panjang dan mempesona.

Sebagai kecamatan yang terletak di perbatasan Negara dengan pusat pemerintahan di Desa Tanjung Karang dan pusat perekonomian di Desa Sei Nyamuk, tentunya kebutuhan informasi dan telekomunikasi menjadi kebutuhan primer dan wajib disediakan untuk menunjang aktivitas perekonomian dan pemerintahan.

Masyarakat Sebatik, sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia, tentunya sangat memerlukan informasi-informasi tersebut. Masalah yang selalu muncul berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ini adalah penyediaan sarana dan prasarana untuk mengakses serta panduan pemanfaatan konten-konten informasi yang ada, agar pemanfaatannya sejalan dengan sarana yang tersedia.

"Sebagai satu-satunya BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi, Telkom memiliki tanggung jawab sosial untuk mendukung kebutuhan informasi dan telekomunikasi masyarakat secara keseluruhan, baik dari sisi infrastruktur maupun konten-konten yang diperlukan. Ini memang sudah jadi tugas kami melayani Indonesia," tandas Eddy.
(rou/rou)







Hide Ads