Sesuai keterangan tertulis yang diterima detikINET, Selasa (18/5/2010), operator nantinya dapat menyediakan hingga 5 GB data per bulan untuk setiap pelanggan layanan suara mereka saat ini dengan menggunakan teknologi radio HSPA dan LTE di situs BTS yang ada. Selain itu mereka pun dapat menggunakan beberapa pita frekuensi berbeda agar lebih efisien.
Alhasil semakin tinggi penetrasi broadband bergerak seharusnya semakin rendah biaya penyediaan gigabyte data per pelanggan. Menanggapi hal ini, seharusnya konsumen makin diuntungkan dengan hadirnya LTE.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak Bagi Konsumen
Apa dampaknya bagi konsumen? Jelas seharusnya mereka bisa menikmati layanan data yang lebih besar dengan biaya yang jauh lebih murah.
Pasalnya, berdasar data NSN, tanpa layanan suara sekalipun dengan teknologi LTE mereka operator dapat mempertahankan belanja modal dan operasional sebesar 3 euro per pelanggan atau sekitar Rp 33.864.
Sebagai informasi, biaya capex dan opex berkurang ketika terdapat lebih banyak pelanggan yang berbagiΒ biaya. Dengan sedikitnya 500 pelanggan per situs yang masing-masing menggunakan kurang dari 2GB/bulan, capex dan opex bulanan akan mencapai 3 euro per pelanggan.
Jika penggunaan data rata-rata dapat dijaga kurang dari 2 GB dan densitas pelanggan sangat tinggi, sangat mungkin untuk menekan capex dan opex bulanan sehingga kurang dari 2 euro. Jika biaya sewa situs dan backhaul sebagian dialokasikan untuk layanan suara, maka capex dan opex bulanan untuk data broadband akan menjadi lebih rendah lagi.
Sebagai perbandingan, saat ini koneksi internet unlimited XL -- dengan batas bandwith 1GB -- dibanderol Rp 150 ribu. Sementara untuk layanan unlimited 1 hari dengan batas bandwith lebih rendah, konsumen diwajibkan membayar Rp 10.000. (fw/ash)