"Investasi awal untuk tiap kapal kira-kira Rp 2 miliar. Komponen yang paling mahal adalah antena autotrack," kata GM Technical Support Special Area Telkomsel, Bambang Utomo di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (9/4/2010).
Untuk menyelenggarakan layanan di kapal Pelni, Telkomsel menempatkan BTS tanpa perlu membangun menara. Cukup meletakkan beberapa alat, seperti antena parabola, modem VSAT IP, pico BTS, solar cell sebagai power supply, serta APB baterai di daerah yang sudah ada listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun perangkat BTS intinya ada di atas kapal, tapi sinyalnya bisa menjangkau ke semua dek yang ada penumpangnya," kata Bambang.
Selain untuk layanan telekomunikasi suara dan SMS, BTS ini juga bisa digunakan untuk mengakses komunikasi data dengan kemampuan konektivitas GPRS dan EDGE.
Bambang mengungkapkan, untuk menempatkan perangkat BTS tersebut, Telkomsel harus membayar Rp 80 juta untuk biaya sewa tempat di kapal Pelni. "Sewa setahun Rp 80 juta. Sementara untuk maintenance, bulanannya agak murah," kata dia tanpa menyebut biaya perawatan.
Β
Sementara menurut Dirut Pelni, Juasabella Sahea, layanan Telkomsel saat ini memang baru ada di 15 kapal. Namun ke depannya, seluruh kapal Pelni akan dilengkapi layanan telekomunikasi.
"Kami memiliki 33 kapal secara keseluruhan, yakni 25 kapal penumpang, 4 kapal barang, 4 kapal RoRo," paparnya. "Dulu komunikasi langsung terputus bila penumpang menuju laut tapi kini komunikasi dengan darat berjalan normal," kata Juasabella yang bersyukur dengan tersedianya jaringan telekomunikasi selama mengarungi lautan.
Β
(rou/rou)