Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, usai menyaksikan penandatanganan kesepatakan kerjasama tersebut mengatakan bahwa dengan pinjaman dana ini maka proyek yang menghabiskan dana sampai US$ 115.409.973 ini bisa terealisasi pada pertengahan 2010.
"Ya, tahun inilah bisa tersambung semuanya," katanya di Ruang Tangkuban Perahu, Kantor Telkom, Jalan Japati No 1, Bandung, Jumat (26/3/2010)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
"Pengerjaan proyek ini kita kerjasama dengan konsorsium Fujitsu-NSW (Norddeutsche Seekabelwerke GmbH). Proyek ini sangat penting, karena kebutuhan masyarakat akan akses telekomunikasi dan data semakin meningkat. Dengan menambah kapasitas menjadi 320 Gbps, diharapkan masyarakat dapat menikmati kualitas komunikasi yang lebih baik," paparnya.
Ditanya apakah Telkom tidak memiliki dana untuk membiayai proyek tersebut sendiri, Rinaldi berkilah bahwa pihaknya tidak memiliki dana.
"Bukan lah. Bukan karena itu. Dana kita punya, kita sanggup biayai semuanya. Tapi kita juga harus menjaga cashflow perusahaan. Lagian bunganya kecil kok. Kompetitif lah," tukasnya.
Di tempat yang sama, Direktur Keuangan PT Telkom, Sudiro Asno mengatakan bahwa alasan pemilihan JBIC semata-mata karena JBIC menawarkan bunga rendah serta
konsorsium Fujitsu-NSW memenangkan tender proyek pengerjaannya.
"Mereka menawarkan bunga yang rendah. Lagi Fujitsu kan dari Jepang, jadi biar mudah saja kita. Dan dari US$ 60 juta dana pinjaman, sebesar 60 persen pinjaman langsung dari JBIC dan 40 persen fasilitas dari Mizuho Corporate Bank, LTd," katanya.
Perjanjian pinjaman itu ditandatangani oleh President Executive Officer for Asia and Oceania JBIC, Ryuichi Kaga dan Direktur Keuangan PT Telkom, Sudiro Asno.
(afz/ash)