"Ya, ada permintaan dari beberapa operator," kata Anggota BRTI, Heru Sutadi, kepada detikINET di Jakarta, Senin (15/2/2010).
Kedua operator yang mengajukan proposal SLI tersebut adalah XL Axiata (XL) dan PT Natrindo Telepon Seluler (Axis).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota Komite BRTI lainnya, Iwan Krisnandi, mengatakan jika peminat dari jasa tersebut hanya dua pemain, kemungkinan proses pemberian hanya berdasarkan evaluasi bukan tender.
"Kalau peserta sedikit tentunya evaluasi saja. Tetapi akan diberikan standar pemenuhan pembangunan infrastruktur atau layanan minimal sama dengan pemenang tender sebelumnya yaitu Bakrie Telecom," jelasnya belum lama ini di Gedung Postel.
Menurut Iwan, peluang terbesar bagi pemain yang akan mendapatkan kode akses SLI adalah pelaku usaha yang bisa menjanjikan pelanggan yang akan dilayani serta pembangunan infrastruktur.
"Jika hanya menyediakan infrastruktur itu sama saja dengan menyewa. Nanti kita lihat juga tujuan penggunaan kode akses itu, melayani pelanggan dengan jumlah besar atau tidak," katanya.
XL selaku peminat terbesar lisensi SLI memiliki jumlah pelanggan sekitar 31,4 juta dengan dukungan 18.790 base transceiver station (BTS) dan telah memiliki serat optik di kawasan Indonesia Timur dan Barat untuk persiapan membangun Sentra Gerbang Internasional (SGI).
Sementara Axis, hanya memiliki sekitar 6 juta pelanggan dengan 3.700 BTS. Axis sendiri untuk memperluas layanannya masih memanfaatkan jaringan milik XL di Sumatera dengan cara roaming nasional. Meski demikian, hal ini tidak menyurutkan langkah Axis untuk mempresentasikan ββproposalnya di hadapan Postel dan BRTI.
Saat ini, layanan SLI diselenggarakan oleh Telkom dengan kode akses 007, Indosat (001 dan 008), serta Bakrie Telecom (009).
Telkom memiliki pelanggan paling besar yaitu sekitar 100 juta nomor (seluler dan telepon tetap), diikuti Indosat sekitar 40 juta (seluler dan telepon tetap), serta Bakrie Telecom 10,5 juta nomor hanya di telepon tetap.
(rou/ash)