frekuensi second carrier di pita 2,1 GHz.
Pemilik lisensi 5 MHz ini memutuskan untuk tidak mengikuti jejak dua operator 3G besar lainnya, Telkomsel dan Indosat, yang akhirnya menerima tawaran pemerintah untuk harga biaya hak penggunaan frekuensi Rp 160 miliar, beserta up front fee Rp 32 miliar per tahunnya.
"Kami tetap akan membutuhkan tambahan frekuensi 3G, namun tidak tahun ini," ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi, kepada detikINET di Jakarta, Jumat (7/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dua operator lainnya, Natrindo Telepon Seluler (Axis) dan Hutchison CP Telecom Indonesia (Tri/3), juga memutuskan untuk tidak menambah frekuensinya karena jumlah penggunanya yang belum terlalu signifikan.
Nah, dari tiga besar penyelenggara 3G ini, jumlah pelanggannya yang bisa dibilang paling sedikit adalah XL. Menurut Manager Corporate Communication XL, Febriati Nadira, jumlah pelanggan 3G mencapai 6,1 juta. "Namun yang menggunakan modem data card cuma 20 ribu," tuturnya.
Jelas angka XL ini kalah urgensinya dibanding Telkomsel dan Indosat. Dengan total pengguna 3G data card masing-masing yang lebih dari 300 ribu pelanggan, pantas saja
jika kemudian dua operator ini setuju untuk membayar tambahan frekuensi dengan harga yang tidak ekonomis jika dilihat dari kondisi pasar saat ini.
"Kami tetap akan menambah. Hanya saja, waktunya menyesuaikan dengan perkembangan trafik XL," pungkas Ira, demikian ia akrab disapa.
(rou/faw)