RIM dalam pertemuan terbatasnya dengan sejumlah media mengungkap, pembangunan after sales services itu baru bisa digelar 26 Agustus 2009. Padahal, tenggat waktu yang ditetapkan pemerintah paling lambat 16 Juli 2009. Praktis, impor BlackBerry mati suri.
"Dengan demikian, seluruh sertifikat untuk impor BlackBerry terpaksa kami bekukan lagi mulai 17 Juli sampai 25 Agustus," kata juru bicara Departemen Komunikasi dan Informatika, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET, Jumat (10/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan periksa dan awasi, apakah ini dibangun oleh mitra operator atau independen. Yang kami inginkan RIM membangun secara independen seperti produsen prinsipal produk lainnya yang telah lebih dulu di sini," jelas pria yang menjabat Kepala Pusat Informasi Depkominfo itu.
Β
Kabar ini tentu mengagetkan banyak pihak, khususnya operator yang menjadi mitra pemasaran dan penyediaan akses jaringan layanan BlackBerry.
BlackBerry hadir di Indonesia sejak akhir 2004 lalu melalui kemitraan ekslusif dengan operator Indosat. Berikutnya menyusul Telkomsel, Excelcomindo Pratama (XL), dan terakhir Natrindo Telepon Seluler (Axis).
Dari tiga operator yang lebih dulu memasarkan ponsel cerdas tersebut, tercatat yang sudah menjadi pelanggan akses internet ritel BlackBerry mencapai 300 ribu pelanggan.
Namun sayang, dari total pelanggan yang tercatat, tak seluruhnya membeli handset dari mitra operator, cuma 20% saja. Permintaan yang tinggi namun ketersediaan terbatas, membuat munculnya BlackBerry hasil importir paralel, yang kemudian dituding sebagai BlackBerry ilegal alias black market (BM).
Dari sini permasalahan timbul. Tak semua orang mengerti jika BlackBerry tak sekadar handset. Menjadi unik karena yang ikut dijual adalah layanan internet, BlackBerry Internet Services (BIS) atau BlackBerry Enterprise Services (BES).
Β
Jika pengguna BlackBerry yang membeli dari operator mengalami masalah pada handset, mereka masih punya tempat untuk purna jual ala operator. Namun tidak dengan mereka yang membeli dari importir paralel.
Purna jual yang diberikan importir tersebut tidak termasuk risiko hangusnya nomor identitas BlackBerry alias suspend PIN oleh RIM. Nah, hal ini yang menjadi bentuk perhatian pemerintah. Dari manapun asalnya distribusi barang, tetap saja BlackBerry yang dibeli pengguna sebagai produk besutan RIM. (rou/faw)