Di satu pihak, wacana kepedulian lingkungan sebagai imbas global warming belakangan makin nyaring terdengar. Bukan hanya di kalangan pemerintahan, namun juga telah sampai ke masyarakat, hingga korporasi yang mengusung konsep green business.
Sektor teknologi informasi (TI) termasuk salah salah satu segmen yang tidak luput menerapkan strategi ekonomi hijau ini. Sebagai salah satu 'pemakan rakus' sektor energi tidak terbarukan, memang mutlak adanya kalangan TI terlibat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, dari sekian konsep TI itu, ada hal yang kurang diperhatikan yakni data center. Padahal, selama ini, keberadaan pusat data ini selalu butuh biaya energi sangat besar untuk proses komputasi di dalamnya yang kontinu sepanjang pekan (24/7).
Selain itu, data center juga membutuhkan desentralisasi, replikasi, dan redundansi data ke berbagai tempat secara massif sekaligus bersamaan. Oleh karenanya, bisa ditebak, muncul problem energi yang akhirnya bisa menimbulkan berbagai dampak.
Mari melihat data dua lembaga riset global, IDC dan Gartner. IDC menilai bahwa untuk setiap US$ 1 investasi peranti keras di data center, akan muncul tambahan biaya US$ 0,5 pada power dan sistem pendinginan (cooling).
Angka tambahan ini naik dua kali lipat dari jumlah tahun sebelumnya. Gartner bahkan memprediksi separuh dari data center di dunia pada 2008 akan kekurangan kapasitas power dan cooling akibat krisis energi.
Survei Sharing Vision pada 2007 juga menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan di Indonesia justru menginginkan metode hot standby dalam data center miliknya, sekalipun mereka tahu krisis energi kerap terjadi di Indonesia.
Yang lebih ironis, sebagaimana dirilis Aparture Research Institute 2007, 43% responden data center (dari kalangan perbankan, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel) justru kehabisan tenaga listrik di setiap kondisi puncak!
Data Center 'Hijau'
Atas situasi ini, maka dibutuhkan model pengelolaan baru baru data center yang lebih peduli lingkungan. Kita sebut saja green data center. Ada tahapan besar yang harus dilakukan dalam mewujudkan model ini.
Pertama, memahami pola konsumsi energi sebuah data center. Kedua, mendesain strategi mata rantai proses TI di dalamnya. Ketiga, memunculkan proses optimalisasi dan pengelolaan pasokan. Keempat, memperlebar virtualisasi aset guna menggenjot utilisasi.
Secara konkrit, rekomendasi tahapan ini bisa dilakukan dalam sepuluh cara. Yakni: Mengaudit efisiensi data center; Menggunakan UPS yang memiliki efisiensi hingga 97%; dan Virtualisasi server dan storage data center.
Selanjutnya lalukan konsolidasi data server dan storage; Penggunaan fitur manajemen energi pada CPU; Penggunaan power supply dan voltage regulator tersertifikasi; Adopsi distribusi energi terefisien; dan Adopsi sistem cooling terbaik.
Dua langkah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah menerapkan prioritas tindakan dalam mereduksi energi sekaligus menonaktifkan peralatan TI yang sudah dalam kondisi idle di sebuah data center.
Dari berbagai aksi nyata itu, penulis menyoroti metode virtualisasi serta konsolidasi server dan storage. Virtualisasi yang bisa mengalihkan data dalam bentuk maya jelas akan menghemat ruangan yang dibutuhkan.
Cara ini akan mewujudkan proses mobilitas data yang menghemat kebutuhan infrastruktur pendukung. Karenanya, virtualisasi menciptakan utilisasi sekaligus efisiensi energi sebesar 70% (Survei NASCIO’S 2007 of State Data Center, 2007).
Virtualisasi-Konsolidasi
Demikian pula konsolidasi, di mana proses penyelarasan data di storage dan server data center jelas akan menyingkirkan data yang tidak diperlukan. Ini otomatis akan mengurangi peranti TI yang diperlukan.
Konsolidasi bermakna pula penerapan sistem cadangan. Artinya, perusahaan idealnya menyiapkan tiga data center guna menghadapi karakter alam Indonesia yang rawan aneka bencana --mulai dari gempa, banjir, hingga serangan teroris.
Implementasi ini sekarang tengah jadi tren global, di mana keterhubungan data center pertama dan kedua menggunakan akses synchrounously connected sementara kedua dan ketiga dengan asynchrounously connected.
Ada pula pihak-pihak yang menerapkannya dengan cara collocation server alias menyimpan server pada pihak lain. Cara ini dinilai bisa menghemat biaya, sekaligus space ruangan tanpa mengalihkan fokus bisnis.
Virtualisasi-konsolidasi ini sendiri dibutuhkan jika mengingat karakter pengguna data center di Indonesia. Survei SHARING VISION pada 2007 lalu kepada 54 perusahaan menunjukkan kecenderungan pengguna menjejalkan semua data.
Pada jawaban terbukanya, responden mengaku memasukkan data rekaman transaksi sebanyak 87%, data pelanggan 69%, data karyawan 63%, laporan keuangan 63%, data inventory 54%, data pihak ketiga 42%, dan seterusnya.
Singkat kata, kesadaran membangun data center yang efisien tampaknya sudah jadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mari jadikan sektor TI di Indonesia sebagai alat dan solusi persoalan lingkungan, bukan malah kian merusak lingkungan.
Penulis adalah Chairperson Lembaga Riset Telematika SHARING VISION sekaligus Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.
(rou/rou)