Blackberry atau BB, setahun terakhir ini, memang menjadi ponsel cerdas yang paling diminati pengguna ponsel di tanah air. Tak heran jika angka pertumbuhannya di Indonesia dalam setahun bisa mencapai mendekati 500%, kini pengguna BB di Tanah Air sudah mencapai sekitar 400 ribuan. Bahkan BB tak cuma menjadi gadget yang paling tinggi pertumbuhan penjualannya, tapi juga menjadi berita yang paling diminati pembaca media maupun portal media.
BlackBerry, memang bukan ponsel pintar biasa. Sesuai positioningnya, 'Always on, always connected', RIM sengaja mengemas ponsel ini dengan servis data BB, yang dikembangkan dan dikelola dalam server RIM. "Kami sangat hati-hati dalam mengembangkan perangkat ini. BlackBerry punya sistem yang unik, inilah yang membuat layanan kami akan unggul di mata konsumen," kata Mike Lazaridis, sang Pendiri Blackberry kepada Kompas beberapa saat lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena keunikan produk, dan sasaran pasarnya yang mengarah ke enterprise, maka sejak awal RIM menggunakan jalur operator telekomunikasi dan distributor yang ditunjuk sebagai mitra distribusi. Saat ini ada lebih dari 475 operator dan distributor yang menjadi kanal penjualan BB di dunia. Pola ini cukup berhasil dikembangkan di AS maupun Eropa.
BB Operator dan BB Importir Paralel
Pertumbuhan pasar di Indonesia memang berbeda dengan negara-negara lain. Di sini, pengguna BB jenis BIS yang tumbuh pesat, menguasai sekitar 80-90% pengguna BB Tanah Air. Ini memang anomali, karena pasar BB di Asia pun masih didominasi jenis BES. Sementara model bisnis yang diterapkan RIM di sini sama dengan di negara lain, yakni bekerjasama dengan sejumlah operator di Tanah Air. Saat ini tercatat ada 4 operator yang menjadi partner RIM: Indosat, XL, Telkomsel, dan Axis. Kabarnya akan menyusul lagi 3 operator.
Permintaan pasar yang cukup besar, plus kekhususan BB ini memang menimbulkan sejumlah dampak bagi pasar BB di Tanah Air. Pertama, maraknya penjualan BB yang bukan berasal dari operator partner (dan distributornya) RIM. Saat ini tercatat ada 3 jenis BB yang beredar di sini. Yakni: BB yang diimpor operator yang menjadi mitra RIM, BB dari importir paralel -- bukan ditunjuk RIM tapi mendapat ijin dari Ditjen Postel -- dan yang lain adalah BB tentengan.
Yang perlu dipahami di sini adalah, ketika operator resmi menjadi mitra RIM dalam menjual BB, ia juga harus menyiapkan infrastruktur seperti server, juga bandwidth yang tidak kecil untuk bisa terhubung ke sistem RIM. Konektivitas itu diperlukan untuk menjamin layanan BB pelanggan di sini berjalan lancar. Sementara hal itu tentu tidak dilakukan oleh importir paralel yang hanya menjual handheld saja di sini.
Problem muncul ketika pengguna BB, PIN-nya diblok oleh RIM, dan mereka tak lagi bisa menggunakan servis BB-nya. Di sinilah kemudian pelbagai isu mengenai BB mulai dikuak. Dan istilah BB BM/black market, PIN kloning pun naik ke permukaan. (Baca: www.detikinet.com/read/2009/05/14/074659/1131142/317/heboh-blackberry-kloning)
Memang ketika pasar BB marak di Indonesia, suplai resmi handheldΒ dari operator saja tak cukup untuk memenuhi permintaan pasar. Sejumlah importir paralel pun turut menjual BB. Sehingga BB pun mengalir deras masuk, memenuhi kebutuhan pasar yang sedang haus. Jumlahnya bahkan lebih banyak dari yang dijualΒ operator.
Barang-barang yang dijual importir paralel tersebut bisa berasal dari pelbagai sumber di luar sana. Bisa dari sejumlah partner RIM di dunia yang membeli secara bulk kepada RIM. Bisa juga mereka kejeblos mengambil dari sumber yang kurang jelas: barang curian, misalnya. Karena tahun lalu ada sejumlah gudang BB yang dibobol pencuri. Seperti yang diumumkan pihak T-Mobile pada 22 Januari 2008, βT-Mobile loses $8.2 million in mobile phone robbery - warehouse burgled for 36,000 cellphonesβ.
Atau bisa juga dari barang-barang rekondisi/refurbish, danΒ barang-barang yang di negara asalnya dikatakan garansi 14 hari (14 days Warranty). Barang-barang ini mungkin saja sudah bermasalah dari negara asalnya sehingga diperlukan kosmetik PIN dan IMEI untuk dapat menjadikannya 'hidup' dan layak untuk dijual kembali.
Yang pasti barang-barang tersebut berada di pasar, dijual dengan harga lebih murah ketimbang yang ada di toko operator. Harga murah itulah yang menjadi daya pikat konsumen, Dan akhirnya menelan korban, karena kabarnya sudah ribuan BB yang ter-blok PIN-nya.
Selain masalah keabsahan BB yang masuk melalui para importir tersebut, problem lain adalah: tidak tersedianya pusat layanan BB resmi RIM di sini. Bagi pelanggan yang membeli BB melalui operator memang tidak masalah, karena ada jaminan baik keabsahan PIN maupun purna jual untuk handheld-nya. Lalu bagaimana dengan BB yang bukan berasal dari operator? Secara resmi memang tidak ada layanan purna jualnya, tapi beberapa toko berani memberikan garansi toko.
Tampaknya RIM memang belum siap dengan anomali pasar Indonesia, yang bahkan berbeda dengan pola pasar di negara-negara Asia lainnya. Karena di dunia pun service centre RIM memang ditujukan untuk melayani para mitranya,Β dan bukan pengguna langsung. Namun, apapun ini adalah kenyataan yang mesti dihadapi dan diselesaikanΒ RIM.
Yang pasti, para operator dan distributor mitra RIM di sini telah memberikan layanan purna jual bagi pengguna BB. Saat ini layanan purna jual tersebut juga telah diperluas, tak cuma untuk pembeli BB ke operator resmi, tapi juga dari sumber lainnya. Namun begitu, RIM masih membatasi layanan purna jual yang diperbolehkan dilakukan di sini, yakniΒ jenis servis level 1, untuk cek kerusakan di tingkat aplikasi dan firmware. Jika ternyata kerusakan bukan di level 1, maka piranti BBΒ harus dikirim ke RIM Singapura.
Dengan karakter pasar Indonesia, maka pola bisnisΒ RIM yang telah sukses diberlakukannya di negara-negara lain menjadi kurang pas di copy paste begitu saja di sini. Karena, kenyataan pertumbuhan BB di tanah air justru dipicu oleh agresifitas importir paralel . Karenanya, sudah selayaknya RIM juga melakukan penyesuaian model bisnisnya terhadap pasar Indonesia.
Tujuannnya, adalah bagaimana memberikanΒ rasa aman dan nyaman bagi para pengguna BB di tanah air. Aman dari kemungkinan membeli BB yang tidak 'halal' dan nyaman karena ada jaminan layanan purna jual. Tentu saja ini juga tantangan bagi para pemangku kebijakan di bidang telekomunikasi untuk bisa selaluΒ mengikuti perkembangan pelbagai produk dan keunikannya yang ada di Tanah Air.
Penulis: Ventura Elisawati adalah praktisi komunikasi digital dan juga pengguna Blackberry. (ash/ash)