"Semua operator di kita itu bangun towernya ke kontraktor. Jangan asal masukkan kontraktor untuk mengurusi tower. Nanti ngawur di lapangan," kata Chief of
Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana saat berbincang dengan detikINET, Rabu (6/5/2009) siang.
Dimitri juga menambahkan, kondisi ini memberikan andil terhadap carut marut regulasi menara. "Pendekatan jalan pintas yang kadang dilakukan oleh kontraktor
seringkali justru malah menimbulkan masalah," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
keberlangsungan jaringan Internet nirkabel berbasis teknologi WiMax di Indonesia. Pasalnya dalam isu menara bersama, poin pentingnya adalah pembatasan.
"Aturan-aturan ini membuat IMB menara tidak lagi mudah didapatkan operator. Maka, kepentingan pelanggan yang paling dirugikan karena kualitas cakupan
layanan tidak bertambah," ungkap pria yang juga mengajar di ITB ini.
Oleh karenanya, Dimitri menegaskan agar operator seluler mulai terlibat lebih banyak dalam pengurusan perizinan maupun meningkatkan pemahaman aparat pemda
atas keberadaan menara.
"Dalam sesi 'Sharing Vision; Tower Sharing', itu banyak ditemukan orang Pemda yang tidak memahami secara teknis dari menara. Karenanya kami merekomendasikan operator seluler khususnya dan Depkominfo umumnya, mau memberikan pelatihan teknikal menara bersama kepada aparat Pemda ini sehingga pemahaman mereka meningkat," pungkasnya.
(afz/ash)