Demikian dikatakan oleh Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana saat berbincang dengan detikINET di Grand Hotel Preanger, Jumat (17/4/2009) sore.
Menurutnya, harus diluruskan pengertian lokal dalam tender broadband wireless access (BWA) tersebut. Karena jika memaksakan harus 100 persen lokal, justru bunuh diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang juga mengajar di ITB ini menambahkan, dengan membuka peluang konsorsium malah akan lebih mempercepat proses sekaligus juga membuka mata dunia luar tentang bangsa Indonesia yang terbuka.
"Lokal memang perlu dapat jatah, jangan pasar milik kita tapi pemainnya dari luar semua. Ya asal lokal kebagian dengan porsi yang wajar. Dengan membuka peluang konsorsium tersebut, justru dunia luar akan melihat bahwa kita bangsa yang bersahabat. Tapi jangan mau diperas," terang Dimitri.
Dimitri mencontohkan IPTN yang sempat sukses dengan produknya CN235. Saat itu walaupun IPTN milik bangsa Indonesia namun dalam pelaksanaanya melibatkan modal asing.
"Saat itu kita sangat membanggakan IPTN. Ya harapannya seperti itu, jangan kemudian karena harus lokal tapi kemudian menutup diri. Jangan lokal yang membabi buta," paparnya.
(afz/faw)