"High risk, high gain. Memang ini berisiko tinggi, tapi untungnya juga besar. Huawei juga begitu ketika pertama dilibatkan pemerintah China. Sekarang siapa yang menyangsikan Huawei," papar Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana kepada detikINET di Hotel Savoy Homman, Minggu (5/4/2009).
Industri strategis terkait telekomunikasi seperti PT INTI dan PT LEN, agar berani berinvestasi dalam produksi customer premises equipment (CPE) maupun jaringan infrastruktur WiMax. "Paling tidak dua perusahaan milik pemerintah ini didorong agar lebih agresif lagi. Jangan hanya menunggu," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tender tidak perlu dipaksakan digelar dalam bulan-bulan ini. Lebih baik dilakukan root analysis yang bertujuan mendorong kesiapan dan mengumpulkan komitmen industri," kata dosen Teknik Elektro ITB ini.
Root analysis sendiri, imbuhnya, dilakukan oleh perwakilan tiap elemen terkait seperti operator telekomunikasi, industri lokal, maupun Dirjen Postel yang duduk bersama guna mengurai masalah sekaligus mencari solusi percepatan peningkatan produk CPE.
"Pemerintah juga harus mengumumkan kepada masyarakat jika ditunda lagi. Tapi dengan catatan dibuka masalah dari masing-masing vendor peserta tender. Apa
masalahnya dan perlu berapa lama untuk menyelesaikan masalahnya," terangnya.
Dengan diumumkannya masalah yang sedang dihadapi, Dimitri yakin tender Wimax tidak akan sama seperti tender 3G.
"Jangan sampai tender hanya untuk meningkatkan value tapi nanti dijual lagi. Jangan seperti 3G dulu. Sehingga tidak beli kucing dalam karung," pungkasnya.
(afz/faw)