Menurut Wartono, kondisi bisnis telekomunikasi di Indonesia saat ini ironis. Hal ini karena banyak operator yang mayoritas sahamnya jatuh ke tangan asing sementara pasarnya tetap berkutat di wilayah domestik.
"Jangan karena alasan pasar bebas lalu kemudian kita kehilangan kepekaan terhadap kepentingan bangsa sendiri. Lihat saja sekarang, banyak operator yang sahamnya justru mayoritas dimiliki oleh bangsa lain seperti Malaysia, Timur Tengah dan lainnya," papar Ketua Umum Serikat Karyawan (Sekar) Telkom, Wartono Purwanto usai acara donor darah di Gedung Telkom Jalan Japati No 1, Bandung, Selasa (3/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
investasi di luar daerah-daerah yang gemuk seperti Jawa dan Sumatera. Industri telekomunikasi, tambahnya, harusnya tertata rapi dan tidak jor-joran mengobral lisensi.
"Kalau idealnya hanya diperlukan 5 operator saja, kenapa lisensi harus diobral. Pemerintah dalam hal ini Menkominfo harus mengambil peranan serta melakukan
pengawasan aktif terhadap industri telekomunikasi di Indonesia," pungkasnya.
Saat ini, imbuhnya, persaingan para operator sudah tidak sehat serta tidak menguntungkan bagi masyarakat. Wartono mencontohkan tarif operator yang semakin murah dan dimurahkan ternyata malah menjadi bumerang. Karena berbanding terbalik dengan kualitas.
"Ironis, banyaknya jumlah operator teryata tidak berdampak signifikan pada pengembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Mereka (operator
telekomunikasi - red) hanya mementingkan kepentingan bisnis mereka semata," papar Ipung, demikian Wartono akrab dipanggil.
(wsh/wsh)