Setidaknya 10 individu terkait penelitian nuklir dan antariksa Amerika Serikat meninggal atau menghilang dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran apakah ada saling keterkaitan atau semata kebetulan.
FBI kini menyatakan akan mencari keterkaitan antara para ilmuwan yang hilang dan meninggal. Mereka akan bekerja sama dengan Departemen Energi, Departemen Perang, dan penegak hukum untuk menemukan jawaban.
Secara terpisah, Komite Pengawas DPR yang dipimpin Partai Republik mengumumkan akan menyelidiki laporan kematian dan hilangnya ilmuwan ini, yang menurut mereka memiliki akses ke informasi ilmiah sensitif. Adapun di X, NASA menyatakan berkoordinasi dengan lembaga terkait sehubungan dengan kasus itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus-kasus ini memiliki latar belakang bervariasi. Beberapa melibatkan pembunuhan yang belum terpecahkan, sementara yang lain adalah kasus orang hilang tanpa tanda tindak kejahatan. Setidaknya dalam dua kejadian, pihak keluarga merujuk kondisi medis yang sudah ada atau pergumulan pribadi sebagai penjelasannya. Pihak berwenang belum menemukan kaitan apa pun di antara kasus-kasus tersebut.
Gedung Putih pekan lalu menyatakan juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga federal untuk menyelidiki potensi keterkaitan, di mana Presiden Donald Trump menyebut masalah ini sebagai hal yang cukup serius.
"Sangat kecil kemungkinannya ini kebetulan," kata Ketua Pengawas DPR James Comer, seorang anggota Partai Republik. "Kongres sangat mengkhawatirkan hal ini. Komite kami menjadikannya salah satu prioritas kami saat ini karena kami memandangnya sebagai ancaman keamanan nasional."
Anggota DPR James Walkinshaw dari Demokrat setuju penyelidikan diperlukan, tapi tak yakin ada motif terkoordinasi. "AS memiliki ribuan ilmuwan dan pakar nuklir. Ini bukanlah jenis program nuklir yang berpotensi dapat terdampak signifikan oleh musuh asing hanya dengan menargetkan 10 individu," sebutnya.
Bervariasi di Setiap Kasus
Rangkaian kematian dan penghilangan misterius ini dimulai tahun 2023 dengan kematian Michael David Hicks, ilmuwan Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA selama hampir 25 tahun.
Hicks, 59 tahun, meninggal 30 Juli 2023. Ia berspesialisasi dalam penelitian komet dan asteroid. Penyebab kematiannya tidak diungkapkan ke publik. Putrinya, Julia Hicks, menyebut ayahnya berjuang dengan masalah medis dan spekulasi baru-baru ini membuatnya terguncang.
"Saya tidak mengerti hubungan antara kematian ayah saya dan para ilmuwan hilang lainnya. Saya tak bisa menahan tawa mendengarnya, namun di saat yang sama, ini mulai menjadi serius," ujarnya.
Tahun-tahun berikutnya, beberapa orang terkait JPL juga meninggal atau menghilang. Frank Maiwald, spesialis penelitian antariksa, meninggal di Los Angeles tahun 2024 di usia 61 tahun. Monica Reza, insinyur kedirgantaraan berusia 60 tahun, menghilang saat mendaki hutan Los Angeles pada Juni 2025. Ia menjabat direktur di Lab NASA
Turut hilang William Neil McCasland, pensiunan mayjen AU, yang belum terlihat sejak ia berjalan keluar dari rumahnya di Albuquerque pada 27 Februari, meninggalkan ponsel, kacamata resep, dan perangkat pintarnya. Ia terlibat di pusat beberapa penelitian kedirgantaraan tercanggih Pentagon.
Dua orang hilang lainnya, Melissa Casias dan Anthony Chavez, diketahui bekerja di Laboratorium Nasional Los Alamos, fasilitas penelitian nuklir terkemuka di New Mexico.
Casias, 53 tahun, terakhir terlihat berjalan di jalan dekat Talpa, New Mexico, bulan Juni 2025. Ia meninggalkan barangnya di rumah dan sebuah ponsel yang telah dikembalikan ke pengaturan pabrik. Chavez, pensiunan berusia 78 tahun yang bekerja sebagai mandor pengawas konstruksi di lokasi tersebut, juga menghilang Mei 2025.
Rangkaian Kematian
Beberapa bulan terakhir, kematian beberapa ilmuwan ternama juga memanaskan spekulasi. Profesor Massachusetts Institute of Technology, Nuno F.G. Loureiro, ditembak mati di rumahnya dekat Boston Desember 2025 oleh pria bersenjata yang juga melepas tembakan di Universitas Brown, menewaskan dua mahasiswa. Fisikawan dan ilmuwan fusi berusia 47 tahun itu sebelumnya memimpin Pusat Sains Plasma dan Fusi MIT.
Carl Grillmair tertembak pada usia 67 tahun di rumahnya di pinggiran Los Angeles bulan Februari. Pihak berwenang menangkap tersangka yang mereka yakini tidak mengenal Grillmair. Ahli astrofisika tersebut bekerja di California Institute of Technology, berkolaborasi dengan NASA, dan terkenal akan studinya tentang pencarian air di planet asing.
Mantan perwira intelijen AU AS, Matthew James Sullivan (39), juga meninggal pada tahun 2024 sebelum dapat bersaksi dalam kasus whistleblower tentang UFO. Anggota DPR Eric Burlison dari Missouri mendesak FBI menyelidikinya. Burlison menyebutnya Sullivan meninggal karena bunuh diri dan menilainya mencurigakan.
"Ia dijadwalkan datang untuk sebuah wawancara. Dalam waktu dua minggu, ia secara mencurigakan bunuh diri," ungkap Burlison.
Beberapa hari terakhir, kematian Amy Eskridge tahun 2022 kembali disorot. Eskridge turut mendirikan Institute for Exotic Science di Alabama. Keluarga Eskridge mengatakan bahwa ia adalah orang yang sangat cerdas dan menderita nyeri kronis. "Orang harus menyadari para ilmuwan juga meninggal dan (jangan) membesar-besarkan hal ini," imbau pihak keluarga.
(fyk/fyk)