detikINETΒ pada 27 Januari lalu melansir soal kemampuan kapasitas produksi PT Hariff Daya Tunggal Engineering. Industri dalam negeri, tampaknya, belum sepenuhnya matang dan siap menghadapi gelaran WiMax di tanah air.Β
Terutama dalam hal penyediaan skala ekonomi produk akhir yang tinggi--yang gilirannya menciptakan harga perangkat level perangkat akhir (CPE/customer premise equipment) terjangkau oleh publik.Β
Pada tataran perangkat jaringan, acungan jempol memang harus diberikan ke produsen WiMax nasional. Informasi yang dihimpun mencatat tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) jaringan sudah di atas rata-rata.Β
Jika mengacu referensi Permen Depperin No.11/2006 plus kebijakan Ditjen Postel, limitasi TKDN jaringan 30% sudah terlampaui sekaligus tersertifikasi pelaksana audit selevel PT Surveyor Indonesia.
Β
Misalnya PT Hariff Daya Tunggal Engineering, di mana TKDN base station 2,3 Ghz sudah mencapai 67,47%, base station 3,3 Ghz (67,47%), subscriber station 2,3 Ghz (36,16%), dan antena sektoral 2,3 Ghz (79,38%).
Demikian pula dengan perangkat PT INTI yang juga disebut-sebut memiliki TKDN tak kalah tinggi. Apalagi, BUMN tersebut memiliki jejak rekam yang baik dalam kandungan lokal produk telekomunikasi.Β
Masih Mahal
Akan tetapi, local content jaringan Worldwide Interoperability for Microwave Acces ini rasanya kurang afdhol, jika mengingat harga CPE lokal yang tersedia masih mahal. Kisarannya masih di level US$ 400 atau mendekati Rp5 juta per unit.Β
Situasi ini sangat disayangkan, teknologi yang digadang-gadang sangat terjangkau itu, ternyata masih sangat memberatkan di level pengguna akhir. Padahal, data riset menunjukkan ekspektasi sangat berbeda.Β
Survei Sharing Vision pada Januari 2009 kepada 150 responden menunjukkan bahwa 91% dari mereka sangat antusias kepada WiMax, jika diberikan perangkat gratis di awal masa berlangganan.Β
42% responden atau harapan terbanyak juga menginginkan harga pemasangan dan perangkat yang murah. Ikhtisar riset WiMax Forum juga setali tiga uang, harga ideal CPE Wimax berada di kisaran US$20-US$40 per unit.Β
Di sisi lain, skala produksi perangkat jaringan tadi juga belum begitu besar. Sepengetahuan kami, baru PT TRG (anak usaha PT Indonesia Tower) yang siap produksi di atas 1 juta unit.Β
PT Hariff sendiri mengaku hanya bisa produksi massal 200.000 unit. Sementara data produsen lainnya seperti PT INTI, PT Dama Persada, dan PT Solusindo Kreasi Pratama masih belum terekspos jelas.Β
Duduk Bersama
Dengan demikian, ada dua tantangan mengemuka terkait produsen WiMax nasional aktual: Menciptakan harga perangkat CPE sangat terjangkau (maksimal US$100) dan meningkatkan kapasitas produksi perangkat jaringan.Β
Ini memang bukan persolan mudah dalam mengakselerasi keduanya. Namun mengacuhkannya pasti akan membuat sejarah keterlibatan industri lokal dalam bisnis telekomunikasi mutakhir makin kelam saja.Β
Perjalanan panjang menuju munculnya peraturan Menkominfo tentang tender Wimax yang memakan waktu hampir dua tahun, sewajarnya diapresiasi kesiapan dan kematangan industri lokal itu sendiri.Β
Kiranya, pada titik ini, perlu dipikirkan upaya seluruh pemangku kepentingan industri telekomunikasi nasional untuk duduk bersama, memikirkan langkah percepatan manufaktur WiMax dalam negeri.Β
Misalnya upaya pemikiran penghapusan kebijakan bea pajak impor lebih tinggi bagi komponen suku cadang daripada produk jadi, masih relevan dipertimbangkan pelbagai pihak regulator terkait.
Jangan sampai ketika tender rampung dan harapan publik atas layanan broadband terjangkau kian membuncah, operator pemenang tender ternyata masih kesulitan mencari produsen WiMax dalam negeri yang handal. Β Β
Kisah ironis akan minimnya produsen nasional dalam helatan teknologi 2G dan 3G di Indonesia, telah saatnya dihentikan. Gelaran WiMax, sudah seharusnya, menjadi momentum kebangkitan industri tanah air. Ayo!! Β Β Β
Penulis adalah dosen ITB sekaligus Chairperson Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi lewat redaksi@detikinet.com
(rou/rou)