Demikian ditegaskan Erik Meijer, Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom usai RUPSLB di Wisma Bakrie II, Jakarta, Selasa (16/12/2008).
"Ekspansi tanpa menara justru membuat kami lebih fokus untuk memasarkan layanan berkualitas," ujarnya dengan senyum mengembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan dijualnya 543 menara lagi, itu artinya anak usaha Bakrie & Brothers ini akan beroperasi secara penuh dengan menyewa menara bersama.
Rancana penjualan menara ini baru saja disetujui pemegang saham Bakrie Telecom. Meski demikian, sudah ada enam perusahaan yang menyatakan minatnya untuk membeli menara tersebut.
Perusahaan menara tersebut ialah PT Solusi Tunas Pratama, PT Tower Bersama, PT Protelindo, PT Retower, PT Padi Mekatel dan PT Powertel.
Untuk bisa membeli menara Bakrie, keenam perusahaan itu sebaiknya tidak main-main. Sebab, untuk bisa ikut tender saja, biaya yang harus disediakan tidak sedikit.
Dirut Bakrie Telecom, Anindya Bakrie menyebutkan, setiap penawar harus menyerahkan Rp 50 miliar. Uang tersebut untuk bid bond tender Rp 8 miliar dan deposit Rp 42 miliar.
"Uang sebanyak itu kami minta demi menjaga keseriusan penawar saja," terang putra dari salah satu menteri Kabinet Indonesia Bersatu tersebut.
Menara yang akan dijual Bakrie terdiri atas 123 menara yang berdiri di atas tanah (green field) dengan taksiran nilai sebesar Rp 115,62 miliar dan 420 menara yang terletak di atas gedung (rooftop) dengan taksiran Rp 264,6 miliar.
Dana penjualan menara tersebut rencananya akan digunakan untuk belanja modal. Bakrie Telecom sebelumnya telah mencanangkan belanja modal sebesar US$ 600 juta hingga 2010.
Wakil Dirut Bidang Jaringan Bakrie Telecom, Muhammad Buldansyah menambahkan, taksiran nilai yang dibuat pihaknya terhadap menara yang akan dijual, dinilai sudah wajar karena usia menara baru berkisar satu hingga lima tahun.
"Sebagian besar kita jual menara yang ada di Jakarta. Ini daerah strategis," demikian pungkasnya.
(rou/dwn)