Rabu, 27 Des 2017 13:13 WIB

Membayangkan Hidup di Bumi Datar

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi: Kiagus Auliansyah/detikcom Ilustrasi: Kiagus Auliansyah/detikcom
Jakarta - Jika selama ini kita terbiasa menjalani rutinitas di atas Bumi yang bulat, pernahkah terbayang untuk hidup di planet yang berbentuk datar?

Dikutip detikINET dari Business Insider, Rabu (27/12/2017), ahli Astronomi kelahiran Inggris, Caleb Scharf, membeberkan pengandaian tersebut.

"Meskipun manusia sempat mengira bahwa Bumi berbentuk datar dalam periode sejarah yang panjang, kini hampir mustahil rasanya untuk mempercayai planet yang kita huni tidak berbentuk bulat," kata Scharf.

Menurutnya, satu konsep yang tidak dimiliki oleh para pendahulu tersebut adalah teori gravitasi, sebagai penentu bagaimana bentuk Bumi yang sebenarnya.

Membayangkan Hidup di Bumi DatarFoto: internet


Pada sebuah bangun ruang berbentuk bola, gravitasi akan menarik ke arah yang sama di tiap titik permukaannya.

Hal tersebut tidak terjadi pada bidang datar. Gaya gravitasi akan menimbulkan gaya tarik ke arah yang berlawanan saat sebuah objek semakin bergerak ke arah tepi bidang tersebut.

Tidak hanya itu, objek tersebut juga akan merasakan daya tarik yang membuatnya tetap menyentuh tanah, sebagaimana yang dirasakan dalam planet berbentuk bulat.

Jadi, bisa dikatakan, sebuah objek akan merasakan gaya gravitasi dua kali lipat dalam planet berbentuk datar.

Selain itu, saat sebuah objek semakin bergerak ke arah tepi, maka bidang yang ditempuh akan terasa bertambah miring dan semakin berat untuk menempuhnya, karena adanya gravitasi dua arah tersebut.

Membayangkan Hidup di Bumi DatarFoto: internet


"Saat sebuah objek bergerak ke tepian, maka akan terasa seperti mendaki bukit yang semakin terjal tiap langkahnya. Ketika sampai di ujung, maka bukit tersebut akan seperti tebing dengan sudut kemiringan 90 derajat," ucap Schraf.

Hal ini akan menimbulkan masalah besar di berbagai aspek, mulai dari olahraga, proses tumbuhnya tanaman, hingga kondisi laut.

"Jika kita sedang bermain sepak bola, misalnya. Saat bola dilempar ke udara, maka objek tersebut tidak jatuh dekat dengan posisi awalnya, melainkan akan melengkung ke arah pusat bidang datar," ujar Scharf.

Selain itu, penulis buku The Zoomable Universe ini juga mengatakan keanehan yang akan terjadi pada tumbuh kembang sebuah tanaman.

"Mengingat batang tanaman tumbuh berlawanan dengan gaya gravitasi (gravitropisme negatif), maka akan terdapat sebuah hutan berisi pohon-pohon yang tumbuh dengan sudut kemiringan sangat tajam saat posisinya semakin menjauhi pusat bidang datar," Schraf menuturkan.

Lalu, Schraf melanjutkan, efek 'gravitasi ganda' tersebut juga akan memengaruhi kondisi lautan. "Hidup di planet berbentuk datar akan terasa seperti di padang pasir. Hal ini disebabkan lautan kesulitan menjangkau tepian bidang, sehingga hanya menumpuk di titik tengah," katanya.

"Jadi, saat kalian melihat sebuah apel yang jatuh ke tanah, itu pertanda bahwa Bumi berbentuk bulat. Karena jika bentuknya datar, bisa jadi apek tersebut akan menimpa muka semua orang," pungkas Schraf.

[Gambas:Youtube]

(rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed