×
Ad

Telepon Scam Meningkat di Indonesia, Kamu Kena Juga?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 07 Sep 2026 18:43 WIB
Data dari Kaspersky Who Calls melihat peningkatan scam call menjadi 10,24% dari seluruh panggilan pada Juni 2026, naik 2,55% dibandingkan bulan Januari. Foto: Getty Images/Thai Liang Lim
Jakarta -

Data dari Kaspersky Who Calls (aplikasi identifikasi penelepon dan pemblokiran panggilan milik Kaspersky) melihat peningkatan scam call di Indonesia menjadi 10,24% dari seluruh panggilan pada Juni 2026, naik 2,55% dibandingkan bulan Januari. Padahal, Februari 2026 berhasil mencatat tingkat terendah yakni 1,62%.

Panggilan spam (spam call) mencakup lebih dari 65% panggilan yang ditandai pada setiap bulan yang dianalisis, dengan puncak mencapai 74,7% pada bulan April 2026. Hal ini menunjukkan bahwa spam terus menjadi gangguan utama bagi pengguna dalam negeri.

Sementara itu, aktivitas panggilan penipuan berfluktuasi tajam sepanjang tahun. Jika Februari jadi tingkat terendah, tingkat tertinggi terjadi pada bulan Mei 2026 dengan persentase 11,09%. Ini mengindikasikan adanya ancaman yang tidak dapat diprediksi dan terus berkembang, bukan sekadar tren yang stabil.

Panggilan suara tidak lagi menjadi satu-satunya saluran yang dimanfaatkan oleh penjahat siber. Menurut riset global Kaspersky mengenai spam dan phishing untuk tahun 2025, para penipu semakin mengandalkan domain palsu, typosquatting, dan tautan phishing untuk mencuri kredensial serta dana. Tautannya menyebar jauh melampaui email, yakni melalui pesan teks, aplikasi pesan instan, media sosial, tawaran pekerjaan palsu, dan pembagian hadiah giveaway aset kripto.

Akun pesan instan yang telah disusupi semakin sering disalahgunakan untuk menyebarkan tawaran penipuan yang tampak berasal dari kontak terpercaya. Kredensial untuk platform pesan instan dan portal layanan pemerintah menjadi sasaran utama karena akses tersebut dapat memfasilitasi pencurian identitas dan penyusupan akun yang lebih luas. Riset yang sama menemukan bahwa 13,74% deteksi lampiran email berbahaya di seluruh dunia terjadi pada perangkat milik pengguna di China, sementara Vietnam (4,14%) dan Malaysia (3,70%) juga termasuk di antara negara-negara yang paling terdampak.

"Para penipu kini berkembang melampaui metode phishing email tradisional dan telah merambah jauh ke dalam ekosistem seluler. Mulai dari kampanye hadiah palsu dan tawaran belanja penipuan hingga iklan berbahaya dan tautan phishing, pelaku serangan terus menemukan cara baru untuk memanipulasi pengguna secara langsung melalui ponsel pintar mereka," ujar Choon Hong Chee Head of Consumer Channel untuk Asia Pasifik di Kaspersky berdasarkan siaran pers yang diterima detikINET, Senin (7/9/2026).

Temuan di atas mencerminkan bagaimana penjahat siber terus memanfaatkan perangkat seluler seiring dengan meningkatnya ketergantungan konsumen pada ponsel pintar untuk komunikasi, berbelanja, pembayaran, hiburan, dan akses ke layanan digital. Oleh karena itu, ikuti beberapa saran dari Kaspersky agar terhindar dari bahaya kejahatan siber di era digital:

  • Hindari mengeklik tautan mencurigakan yang diterima melalui pesan, email, platform media sosial, atau iklan daring
  • Verifikasi URL situs web dengan cermat sebelum memasukkan informasi pribadi
  • Waspada terhadap hadiah, pembagian hadiah giveaway, survei, atau tawaran pekerjaan yang tidak terduga
  • Aktifkan autentikasi multi-faktor untuk akun-akun penting
  • Segera install pembaruan keamanan
  • Gunakan solusi keamanan siber seluler yang terpercaya
  • Pantau akun daring secara berkala untuk mendeteksi aktivitas yang tidak wajar.


Simak Video "Video: Hati-hati! Ini Tandanya Jika Akun Gmail Sudah Diretas"

(ask/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork