×
Ad

Seram, Teknologi Canggih AI Sekarang Dipakai Hacker Hitam

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 19 Agu 2026 22:35 WIB
Ilustrasi Malware. Foto: Dok. Kaspersky
Jakarta -

Peneliti keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky menemukan fakta di lapangan, di mana AI dapat disalahgunakan untuk mengembangkan malware oleh black hat hacker atau hacker jahat.

Hal ini disampaikan oleh Fareed Fauzi Mohamad Radzidi acara Kaspersky Academic Summit 'AI, Security & Society: What's Next for Our Digital Future?', Rabu (19/8/2026), di Jakarta Pusat.

"Ini mempermudah pembuatan malware yang dapat digunakan untuk melancarkan serangan terhadap korban. Pada dasarnya, penggunaan AI dalam pembuatan malware memperkecil kesenjangan terkait keterampilan pengembang dan kemampuan operasional, sekaligus mempercepat prosesnya," terang Fareed.

Siapa pun yang memiliki akses ke AI kini dapat mengembangkan malware dengan mudah. Ini disebabkan teknologi tersebut dapat diakses oleh publik secara luas.

Selain itu, AI memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal bahasa pemrograman. Sebagai contoh, pada tahun 2022 saat ChatGPT mulai viral secara global, kita melihat banyak orang menggunakan AI untuk membantu mereka, misalnya dengan mengajukan pertanyaan seputar cara kerja malware.

"Kemudian pada tahun 2023, kita melihat AI mulai berperan sebagai asisten dalam pengembangan malware. Lalu pada tahun 2024, AI membantu mereka melancarkan serangan terhadap korban. Selanjutnya pada tahun 2025, AI tertanam langsung di dalam kode malware itu sendiri untuk menjalankan serangan," jelas laki-laki asal Malaysia tersebut.

Menurut Fareed, pada tahun 2026 kita akan menyaksikan banyak perkembangan. Kita akan memasuki era yang disebut pengembangan malware berbasis agen atau agentic malware development, di mana proses pembuatan malware berjalan sepenuhnya secara otonom dari awal hingga akhir.

Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET

Fareed pun memaparkan beberapa kasus nyata mengenai bagaimana penyerang memanfaatkan AI dalam situasi dunia nyata. Ia menyebut sebuah kelompok ransomware bernama FunkSec yang ditemukan oleh Kaspersky.

Nah, FunkSec ini membuat kode program, salah satunya adalah alat untuk melancarkan serangan Distributed Denial of Service (DDoS). Mereka mengembangkan kode tersebut menggunakan AI.

"Kita bisa melihat bagaimana mereka memanfaatkannya untuk membuat alat-alat mereka. Kami menemukan berbagai indikator atau artefak, seperti command yang sangat panjang dan mendetail, nama variabel yang sangat deskriptif, dan sebagainya," ungkapnya.

Lantas, bagaimana mengenali sebuat alat ransomware yang menganalisis artefak hasil buatan AI di dalam kodenya? Pertama, kita bisa melihat cara kerja dan gaya penulisan kodenya. Contohnya, kode tersebut memuat terlalu banyak perintah, menangani kesalahan (error) dengan sangat efisien, atau menggunakan nama variabel yang sangat deskriptif.

"Kami juga sering menemukan banyak simbol emoji di dalam kode mereka; saat kami melakukan reverse engineering pada malware yang ditemukan, kami melihat adanya emoji-emoji tersebut," aku Fareed.

Petunjuk-petunjuk semacam itulah yang memberi para peneliti keamanan konteks bahwa malware tersebut dikembangkan dengan bantuan AI. Selain itu, terkadang kode itu sendiri mengandung banyak bug dan 'halusinasi'.

"Dalam artian kode tersebut menyajikan modul palsu, pustaka palsu, serta API yang tidak nyata kepada pembuat malware. Inilah jenis-jenis artefak yang dapat kita amati dalam kode saat menganalisis malware tersebut," tandasnya.



Simak Video "Video BMKG: Gempa Susulan di NTT Akan Menurun 21-30 Hari ke Depan"

(ask/ask)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork