Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Peringatan Interpol: AI Tingkatkan Skala dan Kecepatan Kejahatan Siber

Peringatan Interpol: AI Tingkatkan Skala dan Kecepatan Kejahatan Siber


Fino Yurio Kristo - detikInet

Hacker Rusia Berhasil Membobol Jaringan Komunikasi Pemerintah Jerman
Peringatan Interpol: AI Tingkatkan Skala dan Kecepatan Kejahatan Siber. Foto: DW (News)
Jakarta -

Menurut Interpol, kecerdasan buatan (AI) memfasilitasi ancaman siber dengan meningkatkan taktik kejahatan yang sudah ada. AI lebih bersifat meningkatkan teknik kejahatan yang sudah ada alih-alih merevolusinya, menurut Bjorn R. Watne selaku Global Chief Information Security Officer Interpol.

Pelaku penipuan dapat menggunakan AI untuk menargetkan banyak korban secara bersamaan, sementara teknologi terjemahan dan identitas digital yang makin canggih membuatnya makin sulit untuk membedakan antara interaksi penipuan dengan interaksi asli. "Ini adalah sebuah evolusi dan bukan revolusi," kata Watne.

Seiring berkembangnya ancaman siber, perusahaan harus memprioritaskan langkah perlindungan. Watne menyarankan perusahaan terlebih dulu mengidentifikasi aset paling krusial untuk menjaga kelangsungan operasional bisnis, lalu menentukan siapa pihak yang paling tertarik untuk mencuri atau mengganggu aset tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelahnya, mereka dapat memanfaatkan intelijen ancaman untuk memahami taktik serta teknologi yang digunakan para musuh, lalu menyesuaikan sistem pertahanan berdasar informasi tersebut.

"Perusahaan tidak perlu berusaha melindungi diri dari segala ancaman secara bersamaan jika bukan target dari ancaman tersebut," ujarnya. Sistem pertahanan yang dibutuhkan bisa berbeda-beda, tergantung apakah sebuah perusahaan menghadapi penjahat oportunistik atau ancaman persisten.

ADVERTISEMENT

Perusahaan juga sering kali terhambat tidak adanya keselarasan antara manajemen senior dengan strategi keamanan siber. "Masih banyak industri belum menyadari bahwa saat ini tiap perusahaan pada dasarnya adalah perusahaan TI," tambah Watne yang dikutip detikINET dari CNBC.

Meskipun risiko siber kini menduduki peringkat yang makin tinggi dalam daftar risiko perusahaan, isu keamanan siber belum sepenuhnya menjadi agenda utama di tingkat dewan direksi pada banyak perusahaan.

Risiko Baru Agentic AI

Watne mengaku sangat mewaspadai agentic AI, yaitu AI yang dirancang bertindak secara otonom seiring makin mampunya teknologi ini mengambil tindakan atas nama penggunanya. Kesalahan yang terjadi tak sebatas memberikan informasi keliru, namun bisa meluas hingga menimbulkan konsekuensi nyata di dunia fisik.

"Memberikan informasi yang salah itu satu hal. Namun, ketika AI benar-benar menjalankan suatu tindakan dan mulai melakukan kesalahan, terutama di ranah fisik, hal tersebut dapat berisiko mencelakai fisik manusia," cetusnya.

Ia menyoroti meningkatnya penggunaan AI pada berbagai perangkat seperti kendaraan otonom sebagai salah satu bidang yang memprihatinkan.

Watne menyebut risiko semakin diperparah tingkat kepercayaan masyarakat yang relatif tinggi terhadap teknologi dibandingkan pada bidang lain, seperti layanan keuangan.

Dalam layanan keuangan, masyarakat cenderung mengandalkan sistem pengamanan seperti kode PIN dan selalu waspada terhadap risiko kejahatan seperti skimming kartu. Namun untuk urusan teknologi, mereka sering kali lebih cepat dalam mengadopsi perangkat serta aplikasi baru tanpa kehati-hatian yang sama.

"Terkait teknologi, tingkat kepercayaan masyarakat sangatlah tinggi," kata Watne. Misalnya, betapa mudahnya orang-orang mengeklik notifikasi dan memberikan izin akses pada teknologi baru.

Seiring sistem AI yang makin canggih dalam bertindak atas nama penggunanya, ia menilai besarnya tingkat kepercayaan tersebut perlu diawasi secara lebih ketat.



(fyk/rns)




Hide Ads