Duh, Hacker China Curi Dana Bantuan COVID-19 AS

Duh, Hacker China Curi Dana Bantuan COVID-19 AS

ADVERTISEMENT

Duh, Hacker China Curi Dana Bantuan COVID-19 AS

Anggoro Suryo - detikInet
Rabu, 07 Des 2022 06:15 WIB
Ilustrasi hacker
Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Jakarta -

Hacker China mencuri dana bantuan COVID-19 milik Amerika Serikat yang nilainya setidaknya mencapai USD 20 juta.

Hal ini diungkap oleh Secret Service, yang juga menyebut kalau hacker China yang dimaksud ini adalah sindikat hacker yang dikenal dengan nama APT41 atau Winnti yang berbasis di Chengdu, China, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (7/12/2022).

Pencurian dana COVID ini sendiri dilakukan sejak 2020 lalu dan baru sekarang diungkap ke publik. Namun sayangnya Secret Service tak mengungkap detail lain dari insiden pencurian tersebut.

Namun yang jelas, dana yang dicuri itu sebenarnya diperuntukkan untuk memberikan pinjaman lunak untuk bisnis kecil dan juga memberikan asuransi untuk pengangguran di berbagai negara bagian Amerika Serikat.

Informasi ini berasal dari pejabat pemerintahan yang tak mau namanya disebut. Ia juga menyebut kalau ada banyak badan federal lain yang dalam investigasinya menemukan kalau pencurian ini dilakukan oleh hacker yang dibekingi pemerintah asing.

APT41 adalah sindikat dedemit maya yang dikenal sangat rajin melakukan berbagai serangan siber. Baik itu pencurian data untuk keperluan pemerintah maupun serangan siber yang bertujuan mencari keuntungan finansial.

Namun menurut John Hultquist, head of intelligence analysis di Mandiant menyebut ia belum pernah melihat APT41 beraksi dengan mencuri dana pemerintahan. "Ini artinya (serangannya) sudah tereskalasi," katanya.

Sejumlah anggota sindikat ini sudah didakwa di berbagai pengadilan pada 2019 dan 2020 lalu atas aksinya memata-matai lebih dari 100 perusahaan, termasuk perusahaan pengembangan software, operator telekomunikasi, perusahaan media sosial, dan developer game.

"Sangat disayangkan, Partai Komunis China sudah memilih jalur yang berbeda untuk membuat China aman bagi penjahat siber selama yang komputer yang diserang itu berada di luar China dan mencuri properti intelektual untuk membantu China," kata mantan Deputy Attorney General Jeffrey Rosen saat itu.



Simak Video "200 Juta Alamat Email Pengguna Twitter Dilaporkan Bocor"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT