Bjorka Lebay, Jadi Besar Karena Diberi Panggung

ADVERTISEMENT

Bjorka Lebay, Jadi Besar Karena Diberi Panggung

Tim - detikInet
Kamis, 15 Sep 2022 18:53 WIB
Akun Twitter Hacker Bjorka
Bjorka Lebay, Jadi Besar Karena Diberi Panggung (Foto: Fitraya Ramadhanny/detikcom)
Jakarta -

Data yang dibocorkan Hacker Bjorka dianggap data-data yang sebenarnya biasa, namun menjadi sangat heboh karena mendapat dukungan netizen, serta mendapat panggung yang terlalu besar.

Hal ini diungkap RubyAlamsyah,CEO Digital Forensic Indonesia dalam wawancara eksklusif dengan Blak-blakan detikcom. Ruby tak segan menyebut kalau data yang dibocorkan Bjorka ini tak ada apa-apanya dibanding data lain yang juga tersebar di forum hacker. Namun ia kemudian menjadi sesuatu yang populer karena mendapat panggung.

"Saya selalu menyebut apa yang dilakukan Bjorka ini di-compared dengan data-data sebelumnya sebenarnya nothing tetapi dia bisa menjadi something karena disiapkan panggungnya karena kesalahan pejabat tertentu," tambah Ruby.

Menurutnya, apa yang dinarasikan Bjorka ini bisa dibilang lebay, atau bisa juga disebut click bait. Berbeda dengan hacker lain, Bjorka bergaya berlebihan untuk kualitas data yang tidak lebih baik dari hacker lainnya.

"Narasi dia sama data dia yang dimaksud sedikit lebay, nah alias kalau kita istilahkan kayak click bait media judulnya apa datanya apa," jelas Ruby.

Data yang tak sesuai ini, menurut Ruby, misalnya adalah data yang diklaim merupakan registrasi SIM card prabayar, namun ternyata setelah diteliti adalah data dari Dukcapil. Jadi tidak sesuai dengan narasi yang dibuat Bjorka.

"Kalau Bjorka jual data yang dinarasikan sebagai data SIM card, ada 1,3 m data dengan harga USD 50 ribu, menurut saya kemahalan karena datanya tidak seksi. Bisa dibilang tidak lengkap dan duplikasi data terlalu banyak. Lalu setelah kita menganalisa data tersebut bukan data SIM card melainkan data yang ada di Dukcapil," jelas Ruby.

Lalu soal data pejabat yang disebarkan Bjorka, menurut Ruby sumbernya tidak disebutkan lalu tampilannya juga hanya latar berwarna putih dan tulisannya seperti dibuat ulang.

"Kalau saya menganalisanya 95% data tampilan pejabat itu ada di data kebocoran sebelumnya sisanya tinggal improvisasi termasuk data asuransi kesehatan kita yang 247 juta NIK Kita lengkap," tambahnya.

Lalu Ruby pun menyayangkan kalau insiden sekelas Bjorka ini sampai dibuatkan tim khusus untuk menginvestigasinya. "Kalau sekelas Bjorka diperiksa dibikin timsus seperti ini lagi-lagi menurut saya itu panggungnya terlalu besar untuk Bjorka," pungkasnya.

Malah nantinya hal ini bisa merembet menjadi masalah lain. Ruby mencontohkan, misalnya suatu saat nanti Bjorka memilih untuk menjual akunnya, malah akan panjang masalahnya.

"Ini kita berandai-andai opsi itu (jual akun Bjorka) ada jadi panjang karena profilenya match menurut saya," jelas Ruby.

Profil yang dimaksud Ruby ini adalah kelakuan Bjorka yang tak lazim, misalnya menyebut motif serangannya ini bersifat personal. Dia mengaku orang dekatnya pernah menjadi korban kebijakan Orde Baru pasca 1965 dan wafat tahun 2021.

Bjorka bilang sosok itu adalah kakek tua yang cerdas yang mengurus dia sejak lahir. Orang ini kata Bjorka sudah kehilangan status WNI akibat kebijakan tahun 1965. Bjorka pun mendedikasikan aksi ini untuk dia.

"Untuk orang yang menjual data (bocoran) motifnya memang ekonomi, tapi kalau dia belok ke cerita-cerita itu, saya juga mikir apakah benar emosi bisa sampai segitunya. Saya sempat mikir kalau akun itu dibeli jadi berubah profilnya, lalu dicocokin dengan narasi-narasi data yang dibocorkan, itu bukan narasi penjual data lagi kalau menurut saya," tutup Ruby.



Simak Video "Anggota Komisi I Kritik Sikap Santai Pejabat saat Data Pribadi Bocor"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT