Membongkar Skema Ponzi Robot Trading, Sungguh Mengerikan!

Kolom Telematika

Membongkar Skema Ponzi Robot Trading, Sungguh Mengerikan!

Alfons Tanujaya - detikInet
Kamis, 24 Mar 2022 11:40 WIB
Binomo
Foto: Binomo (Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah)
Jakarta -

Apakah uang Korban skema Ponzi bisa kembali dan apa yang sebaiknya dilakukan pihak berwenang?

Sebagai negara dengan jumlah penduduk nomor 4 di dunia dengan populasi 270 juta, kelas menengah Indonesia 40 % atau sebesar 108 juta menjadi target pemasaran yang menggiurkan untuk semua produk, termasuk skema Ponzi. Sekalipun dengan asumsi yang berminat dan menjadi korban potensial skema Ponzi hanya 10 %, jumlahnya tetap sangat menggiurkan sebesar 10,8 juta penduduk.

Apalagi, kita didera pandemi dua tahun berturut-turut dengan penghasilan yang terganggu. Maka, tawaran skema Ponzi yang memalsukan diri sebagai investasi Robot Trading dengan bagi hasil yang menggiurkan sebesar 10 % per bulan, akan sangat sulit ditolak bagi kebanyakan orang yang masih memiliki dana menganggur.

Banyak calon korban yang pada awalnya tidak yakin dengan skema Ponzi ini akhirnya tergiur setelah melihat bahwa afiliator atau uplinenya terbukti mendapatkan pembagian profit yang dijanjikan, 10 % per bulan selama berbulan-bulan. Dengan dukungan bukti transaksi palsu Robot Trading yang direkayasa sedemikian rupa dan berlindung di balik kerumitan transaksi forex dan Robot Trading, diikuti oleh upline yang tidak ragu melakukan flexing dengan berbagai moto seperti 1 % per hari atau 10 % per bulan rebahan saja, maka runtuhlah pertahanan logika dan akhirnya ikut ke dalam skema Ponzi ini.

Sebenarnya dengan logika simple saja skema Ponzi ini dapat diidentifikasi dan dapat dijadikan patokan di masa depan. Jika ada Robot Trading atau metode apapun yang memberikan profit sebesar 10 % per bulan, lalu mengapa pembuatnya masih butuh memasarkan metode atau Robot Trading ini?

Jalankan saja sendiri dan dalam waktu beberapa tahun saja ia akan menjadi kaya raya mandraguna. Jawabannya hanya satu, pembagian profit menggiurkan ini menggunakan skema Ponzi alias uang dari member baru yang masuk dibagikan sebagai profit setiap bulan dan member yang sudah ada diiming-imingi lagi dengan komisi besar jika berhasil menarik member baru masuk.

Skema ini akan dirancang sedemikian rupa sehingga bisa bertahan / sustain, asalkan ada penambahan member baru yang masuk, maka skema ini akan bertahan untuk jangka waktu bertahun-tahun dan tetap membagikan keuntungan yang dijanjikan. Namun kabar buruknya, uang masyarakat yang terseret ke dalam skema Ponzi ini akan makin besar.

Penulis mencoba menghitung cashflow skema Ponzi ini dan menggunakan beberapa asumsi untuk melihat bagaimana skema ini berjalan, seberapa besar uang yang terlibat, berapa lama skema ini bisa bertahan jika tidak ada penambahan member baru dan ketika skema ini dihentikan atau dilarang, apakah masih ada dana yang bisa diselamatkan.

Catatan: Perhitungan ini dibuat berdasarkan penawaran dan ketentuan Robot Trading palsu yang banyak beredar dan ditawarkan kepada masyarakat, angka sebenarnya hanya dimiliki oleh pengelola Robot Trading ini dan table ini hanya memberikan gambaran umum dari cash flow skema Ponzi ini yaitu sebagai berikut:

Skema Ponzi Robot TradingSkema Ponzi Robot Trading Foto: dok Alfons Tanujaya

Program Excel dengan tabel simpel digunakan untuk menghitung perkiraan cashflow skema Ponzi ini dengan asumsi :

  1. Harga 1 paket investasi US$ 500 dengan asumsi kurs dolar Rp 14.000.
  2. Biaya konversi rupiah ke mata uang dolar US$ 5% dan sebaliknya ketika menambah investasi atau menerima profit. Biaya ini dibebankan oleh pengelola skema Ponzi.
  3. Pembagian profit 10% per bulan dari total investasi yang ada di bulan sebelumnya.
  4. Penambahan investasi baru setiap bulan adalah 50% per bulan dari bulan sebelumnya. Jadi setiap bulan total investasi akan menjadi 1,5 X dari bulan sebelumnya.
  5. Overhead dan biaya yang diberikan kepada upline adalah 50% dari investasi baru yang masuk.
  6. Sebagai negara dengan jumlah penduduk nomor 4 di dunia, kelas menengah Indonesia sekitar 40% dari 270 juta atau sekitar 108 juta dan menjadi target market skema Ponzi. Dengan asumsi yang berminat dan menjadi korban potensial adalah 10 % atau sekitar 10,8 juta penduduk. Sehingga diasumsikan paket Ponzi akan mencapai titik jenuh pada angka 10,8 juta paket dan mulai mengalami kesulitan menambah membernya.

Dengan asumsi seperti hal di atas, dimana setiap bulan member baru yang masuk konstan 1,5 kali lipat dan titik jenuh 10,8 juta/paket, maka Skema Ponzi ini akan mengalami kesulitan menambah member baru pada bulan ke 41 dimana jumlah paket investasi sudah mencapai 11 juta paket.

Halaman selanjutnya: Kesimpulan >>>