Sakti! Hacker Anonymous Bajak Stasiun TV Rusia

Sakti! Hacker Anonymous Bajak Stasiun TV Rusia

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Selasa, 08 Mar 2022 14:46 WIB
Darkweb, darknet and hacking concept. Hacker with cellphone. Man using dark web with smartphone. Mobile phone fraud, online scam and cyber security threat. Scammer using stolen cell. AR data code.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tero Vesalainen
Jakarta -

Invasi Rusia ke Ukraina kembali dibumbui aksi hacker anonymous yang menyerbu Rusia, kali ini korbannya adalah layanan streaming dan stasiun TV berita Rusia.

Dalam aksinya yang terjadi pada Senin (7/3), hacker anonymous membajak stasiun TV untuk menayangkan rekaman video serangan Rusia ke Ukraina. Korbannya adalah stasiun TV berita Rusia seperti Russia 24, Channel One, dan Moscow 24, termasuk situs streaming videonya.

"The hacking collective #Anonymous meretas ke layanan streaming Rusia seperti Wink dan Ivi (semacam Netflix) dan stasiun TV Russia 24, Channel One, Moscow 24 untuk menayangkan rekaman serangan dari Ukraina," jelas akun @YourAnonNews di Twitter, lengkap dengan bukti rekaman layarnya.



Dalam rekaman video yang disebar @YourAnonNews tersebut juga disertai pesan pada akhir video yang berbunyi: "Warga biasa Rusia tak setuju dengan perang" dan meminta warga Rusia untuk menentang invasi ke Ukraina itu.

Tak lama setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memulai operasi militernya ke Ukraina, hacker kolektif anonim mengklaim sudah memulai perang siber ke pemerintah Rusia. Mereka mengklaim sukses melakukan sejumlah hal, termasuk mematikan situs resmi Kremlin pada 26 Februari lalu.

Aksi peretasan ke stasiun TV Rusia itu muncul setelah muncul kampanye di Twitter yang menyerukan untuk menjaga akses informasi warga Rusia dengan komunitas global. Kampanye tersebut muncul setelah pemerintah Rusia mulai membatasi akses informasi terkait invasi ke Ukraina di negaranya itu.

Pemerintah Rusia memang mulai membatasi akses informasi yang masuk ke Rusia sejak mereka memulai invasi ke Ukraina. Salah satunya dengan memblokir akses ke Facebook dan sejumlah media asing.

Mereka pun memberlakukan peraturan baru terkait 'berita hoax', di mana pemerintah Rusia bisa menghukum siapa pun yang menyebarkan informasi yang dianggap tak benar terkait invasi ke Ukraina.

Dalam aturan tersebut, pelaku penyebar informasi palsu bisa dihukum penjara sampai dengan 15 tahun atau didenda maksimal 1,5 juta ruble, demikian dikutip detikINET dari The Independent, Selasa (8/3/2022).

[Gambas:Youtube]





Simak Video "Rusia Klaim Hancurkan Pasokan Senjata dari AS-Eropa di Lviv"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)