Awas! 50 Ribu User Facebook dan Instagram Dimata-matai Intelijen

Awas! 50 Ribu User Facebook dan Instagram Dimata-matai Intelijen

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 17 Des 2021 11:32 WIB
Facebook employees take a photo with the companys new name and logo outside its headquarters in Menlo Park, Calif., Thursday, Oct. 28, 2021, after the company announced that it is changing its name to Meta Platforms Inc. (AP Photo/Tony Avelar)
Foto: AP/Tony Avelar
Jakarta -

Meta, induk usaha Facebook, memperingatkan 50 ribu pengguna Facebook dan Instagram karena akunnya dimata-matai oleh intelijen sewaan.

Menurut Meta, ada tujuh perusahaan yang mematai-matai 50 ribu pengguna Facebook dan Instagram, dan korbannya ini tersebar di lebih dari 100 negara, seperti yang ditulis Meta dalam laman newsroom mereka.

Targetnya ini adalah jurnalis, pihak oposisi, pihak yang sering mengkritisi pemerintah, keluarga dari pihak oposisi, dan aktivis HAM. Aksi mata-mata ini ditemukan setelah Meta melakukan investigasi selama sebulan, dan mereka pun langsung menghapus akun yang terkait perusahaan mata-mata tersebut.

"Perusahaan ini adalah bagian dari industri yang luas, yang menyediakan software intrusif dan layanan mata-mata untuk semua konsumennya tanpa pandang bulu -- terlepas dari siapa yang mereka targetkan atau pelanggaran HAM apa yang mungkin terjadi," tulis David Agranovich Mike Dvilyanski, director of threat disruption Meta dan head of cyber espionage investigations Meta, di laman tersebut.

"Industri ini mendemokratisasi ancaman ini, membuatnya tersedia untuk pemerintahan ataupun badan selain pemerintah yang sebelumnya tak mungkin mempunyai kemampuan ini," tambah Agranovic.

Dalam laporan tersebut Meta juga menyebut nama enam dari tujuh perusahaan yang terlibat, sementara satu yang tersisa tak diketahui namanya. Empat dari tujuh perusahaan itu adalah Cobwebs Technologies, Cognyte, Black Cube, dan Bluehawk CI, dan mereka berbasis di Israel. Tiga sisanya berbasis di China, India, dan Makedonia Utara.

Salah satu dari perusahaan tersebut, Black Cube, mendeskripsikan diri sebagai perusahaan pendukung litigasi yang menggunakan metode investigasi yang mengikuti hukum lokal di setiap yurisdiksi tempat mereka beroperasi.

Black Cube juga sebelumnya pernah digunakan layanannya oleh Harvey Weinstein untuk mencoba memblokir sebuah artikel dari New York Times yang menggerakan aksi #MeToo. Kabarnya, Black Cube ini mempunyai banyak pegawai yang sebelumnya bekerja Mossad, badan intelijen Israel.



Simak Video "Setiap Orang Bisa Mencoba Kehidupan Virtual di Toko Meta"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)