Pendekatan Zero Trust untuk Pencegahan Serangan Siber

Pendekatan Zero Trust untuk Pencegahan Serangan Siber

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 13 Des 2021 10:45 WIB
Darkweb, darknet and hacking concept. Hacker with cellphone. Man using dark web with smartphone. Mobile phone fraud, online scam and cyber security threat. Scammer using stolen cell. AR data code.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tero Vesalainen
Jakarta -

Akamai, penyedia solusi perlindungan dan penyediaan pengalaman digital, merekomendasikan pendekatan Zero Trust sebagai pencegahan serangan siber.

Langkah ini menurut Akamai penting untuk dilakukan karena transformasi digital adalah salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, alhasil perusahaan harus memastikan agar data dan para pelanggan mereka terlindungi dari gangguan serangan siber.

Zero Trust adalah sebuah model keamanan jaringan yang menggunakan prinsip 'least privilege' berbasis proses verifikasi identitas yang ketat. Sistem ini memastikan hanya pengguna dan perangkat resmi terotektikasi yang dapat mengakses aplikasi dan data.

"Kerangka kerja yang digunakan memastikan bahwa hanya pengguna dan perangkat resmi yang terotentikasi dapat mengakses aplikasi dan data. Pada saat yang sama, ini melindungi aplikasi dan pengguna dari berbagai serangan online canggih," Sidharth Pisharoti, Regional Vice President, Akamai Technologies - India, South East Asia and APJ Carrier, dalam keterangan yang diterima detikINET.

Di tengah pendemi COVID-19, insiden keamanan siber terus meningkat di seluruh dunia. Para penjahat siber terus mencari berbagai peluang baru untuk menerobos data perusahaan melalui beragam serangan yang semakin canggih.

Akamai menganalisa lebih dari 300 TB data serangan baru setiap harinya. Melalui analisis ini, Akamai telah mencatat sejumlah vektor serangan yang memecahkan rekor seperti:

  • Serangan Distributed-Denial-of-Service (DDoS):Akamai memitigasi 1900+ serangan DDos pada Q1 2021, menandai kenaikan sebesar 34% year-on-year.
  • Credential abuse: 63 miliar serangan credential abuse diidentifikasi pada Q1 2021, meningkat tajam sebesar 133% year-on-year.
  • Serangan di layer aplikasi: Lebih dari 2 miliar peringatan Web Access Firewall (WAF) dipicu pada Q1 2021, melonjak 70% year-on-year.

"Angka-angka di atas menunjukkan bahwa berbagai organisasi/perusahaan harus beralih dari strategi pertahanan perimeter tradisional dan mulai melindungi aplikasi-aplikasi internal mereka seperti halnya mereka melindungi aplikasi eksternal," tutup Pisharoti.



Simak Video "Ukraina Digempur Serangan Siber"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/afr)