Awas! 23 Aplikasi Android Berbahaya Bisa Curi Data

Awas! 23 Aplikasi Android Berbahaya Bisa Curi Data

Virgina Maulita Putri - detikInet
Jumat, 12 Nov 2021 19:13 WIB
android malware
Spyware Pencuri Data Ditemukan Sembunyi di 23 Aplikasi Android Foto: istimewa
Jakarta -

Peneliti keamanan menemukan kampanye spyware baru bernama PhoneSpy. Spyware ini menyamar sebagai aplikasi yang terlihat legit tapi diam-diam bisa mencuri data dan menyadap ponsel.

Peneliti dari perusahaan keamanan siber Zimperium menemukan spyware PhoneSpy bersembunyi di 23 aplikasi Android. Aplikasi yang digunakan untuk menyebarkan spyware ini beragam, mulai dari aplikasi panduan yoga, galeri foto, editing foto, dan lain-lain.

"Aplikasi Android berbahaya ini dirancang berjalan diam-diam di background, terus menerus memata-matai korbannya tanpa menimbulkan kecurigaan," kata peneliti Zimperium Aazim Yaswant, seperti dikutip dari Ars Technica, Jumat (12/11/2021).

"Kami yakin aktor jahat yang bertanggung jawab atas PhoneSpy telah mengumpulkan informasi pribadi dan perusahaan dalam jumlah besar, termasuk komunikasi dan foto pribadi," sambungnya.

Sejak proses instalasi, aplikasi-aplikasi ini sudah mencurigakan karena meminta izin akses tyang sangat banyak, mulai dari kamera, kontak, lokasi, mikrofon, SMS, dan lain-lain.

Setelah ponsel terinfeksi, spyware ini diam-diam mencuri informasi penting dari ponsel seperti kredensial login, pesan, lokasi, dan foto. Spyware PhoneSpy juga bisa mengakses kamera korban untuk mengambil foto dan merekam video tanpa sepengetahuan mereka.

Zimperium memperingatkan data-data yang dikumpulkan oleh spyware ini bisa digunakan untuk pemerasan pribadi dan perusahaan hingga spionase. Spyware ini juga sulit dideteksi, kecuali korbannya rajin memantau trafik web mereka.

Berikut daftar lengkap hal-hal yang bisa dilakukan spyware PhoneSpy di ponsel yang sudah terinfeksi:

  • Mengumpulkan daftar lengkap aplikasi yang diinstal
  • Mencuri kredensial lewat phishing
  • Mencuri foto
  • Memonitor lokasi GPS
  • Mencuri SMS
  • Mencuri kontak ponsel
  • Mencuri log panggilan telepon
  • Merekam audio secara real-time
  • Merekam video secara real-time menggunakan kamera depan dan belakang
  • Mengakses kamera untuk mengambil foto menggunakan kamera depan dan belakang
  • Mengirimkan SMS ke nomor telepon yang dikontrol oleh penyerang
  • Mengambil informasi perangkat (IMEI, brand, nama perangkat, versi Android)
  • Menyembunyikan wujudnya dengan menghilangkan ikon aplikasi dari menu

Zimperium mengatakan spyware PhoneSpy sudah menginfeksi 1.000 korban. Saat ini semua korbannya berlokasi di Korea Selatan, tapi bukan tidak mungkin ada orang di negara lain yang turut menjadi target.

Zymperium tidak menemukan bukti bahwa ke-23 aplikasi yang berisi spyware PhoneSpy tersedia di Google Play Store atau toko aplikasi pihak ketiga. Mereka menduga spyware ini disebarkan menggunakan pengalihan trafik web atau rekayasa sosial. 23 Aplikasi itu adalah:

  • Videos
  • Picture
  • Secret TV
  • 영상 - videos
  • Daily Yoga
  • 갤러리 - Gallery
  • Vera (3 aplikasi dengan nama sama)
  • 동영상 - Videos
  • 갤러리 - Gallery
  • 내꺼사진 - My Picture
  • 음성지원 - Voice Support
  • Gallery (3 aplikasi dengan nama sama)
  • 갤러리 - Gallery
  • 클라우드 - Cloud
  • 야동 - Porn
  • 1004 Yoga
  • 갤러리 - Gallery
  • 한나TV - Hannah TV
  • 보안카메라 - Security Camera

Aplikasi-aplikasi tersebut dapat dikenali dari ikon-ikon berikut ini:

Ikon aplikasi yang dipakai menyebarkan spyware PhoneSpyIkon aplikasi yang dipakai menyebarkan spyware PhoneSpy Foto: dok. Zimperium

Kemampuan spyware ini sangat canggih, dan mirip seperti malware Pegasus yang dikembangkan oleh NSO Group. Malware Pegasus sendiri dijual oleh NSO Group ke pemerintahan di seluruh dunia untuk memata-matai penjahat, teroris, pembangkang, hingga aktivis.

Zimperium belum mengetahui siapa aktor di balik spyware PhoneSpy, tapi mereka sudah melaporkan kampanye spyware ini kepada otoritas Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Hingga Rabu pagi kemarin kampanye spyware PhoneSpy masih aktif. Pengguna Android pun diimbau untuk berhati-hati saat mengunduh aplikasi, apalagi jika berasal dari sumber atau developer yang tidak jelas.



Simak Video "Twitter Stop Auto Refresh Agar Bacaan Pengguna Tidak Mudah 'Hilang'"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)