Penyebar Ransomware REvil Digerebek

Penyebar Ransomware REvil Digerebek

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 25 Okt 2021 21:14 WIB
Darkweb, darknet and hacking concept. Hacker with cellphone. Man using dark web with smartphone. Mobile phone fraud, online scam and cyber security threat. Scammer using stolen cell. AR data code.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tero Vesalainen
Jakarta -

Pemerintah AS kabarnya sukses menggerebek sindikat hacker REvil, yang ada di balik berbagai serangan ransomware meresahkan.

Dilansir Reuters, Senin (25/10/2021) dalam operasi gabungan antara beberapa badan federal AS seperti FBI, Secret Service, Cyber Command, dan bermacam badan dari beberapa negara tersebut, jaringan sindikat hacker tersebut berhasil dihack dan dimatikan.

Termasuk blog milik REvil yang tersimpan di dark web tersebut sukses dimatikan. Blog tersebut sebelumnya dipakai REvil untuk menyebarkan bermacam informasi yang mereka curi dari korbannya.

Laporan situs REvil yang offline itu sebenarnya sudah muncul sejak awal minggu ini. Seperti ditulis Techcrunch yang menyebut situs REvil di Tor sudah tak bisa diakses sejak Senin lalu.

Saat itu, ada sebuah postingan yang diduga berasal dari salah satu pemimpin REvil, yang menyebut server mereka diretas. Namun saat itu belum jelas siapa pelakunya.

Namun kemudian sumber Reuters menyatakan kalau situs REvil itu diretas dalam operasi gabungan oleh beberapa badan federal pemerintah AS. Dalam operasi tersebut sejumlah situs hacker ransomware lain juga digerebek.

REvil adalah penyebar ransomware yang diduga terkait dengan kebocoran data Apple, serangan ke sejumlah perusahaan software enterprise, dan sejumlah serangan siber besar lain.

Mereka pun disebut salah satu sindikat penyebar ransomware yang menerima uang tebusan paling banyak.

Semakin banyaknya kasus ransomware itu membuat pemerintah AS berusaha keras untuk mengatasinya. Pasalnya uang tebusan yang dibayarkan untuk membuka ransomware itu semakin mahal, karena kabarnya ada sebuah perusahaan yang membayar uang tebusan sebesar USD 40 juta untuk ransomware itu.

Beberapa langkah yang diambil pemerintah AS antara lain adalah mempersulit 'monetisasi' hasil peretasan, lalu ada juga tim khusus yang dibentuk untuk menginvestigasi kejahatan di tempat pertukaran mata uang kripto, karena kebanyakan uang tebusan ransomware dibayarkan lewat mata uang kripto.



Simak Video "Buru Bos Hacker Ransomware, AS Tawarkan Hadiah Setara Rp 143 M"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)