Serangan Siber Bikin Netizen Stres

Serangan Siber Bikin Netizen Stres

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 24 Sep 2021 22:11 WIB
Ilustrasi perempuan menggunakan ponsel
Serangan Siber Bikin Netizen Stres (Foto: iStock)
Jakarta -

Serangan siber yang berujung pada kebocoran data pribadi membuat pengguna internet lebih stres.

Kesimpulan ini berasal dari survei yang diadakan Kaspersky terhadap pengguna internet di Amerika Serikat dan Kanada. Dalam survei tersebut, 70% dari 2500 pengguna internet merasa menjadi lebih stres saat membaca berita terkait pembobolan data pribadi.

Di sisi lain, lebih dari setengah responden mengaku penggunaan layanan onlinenya meningkat selama pandemi COVID-19, dan 56% mengaku kalau dunia maya menjadi sumber stres mereka. Lalu 25% responden mengaku waktu onlinenya meningkat signifikan selama pandemi.

Angka tersebut meningkat jauh lebih tinggi untuk milenial, di mana 64% mengaku adanya peningkatan penggunaan internet, dibanding 45% bagi Baby Boomers, demikian dikutip detikINET dari Zdnet, Jumat (24/9/2021).

Menariknya, angka tingkat stres ini menurun dibanding laporan sebelumnya, yaitu pada 2018 dan 2019. Pada 2018, hampir 80% dari responden mengaku kebocoran data membuat mereka jadi stres, lebih tinggi 7% dibanding 2021. Lalu 60% responden juga menganggap ransomware sebagai ancaman utama.

Meski tingkat stres meningkat, banyak juga responden yang merasa semakin percaya diri menghadapi serangan siber. 36% Responden mengaku mereka sudah siap menghadapi serangan siber, dan 23% mengaku belum siap menghadapi serangan siber.

Sayangnya hanya 30% responden yang mengaku sudah memakai platform perlindungan tambahan untuk melindungi data pribadi dan perangkatnya dari serangan siber.

Menurut CEO ThreatModeler Archie Agarwal, temuan di laporan ini menunjukkan kalau kelakuan responden yang berkebalikan. Di mana mereka takut menjadi korban serangan siber namun tidak mengambil langkah apa pun untuk melindungi dirinya.

Contohnya adalah 64% responden lebih takut rekening banknya diakses secara ilegal ketimbang kehilangan pekerjaan. Namun 44% responden tidak melindungi ponselnya dengan PIN.

"Dengan banyaknya penggunaan mobile banking, hal ini sangat membingungkan. Jadi ketakutan bukanlah motivator yang baik untuk mengambil aksi, dan organisasi seharusnya tak lagi menggunakan ketakutan untuk memotivasi karyawannya agar menjaga keamanan datanya dan mencari cara lain yang lebih positif," ujar Agarwal.



Simak Video "Manufaktur Ramai Diserang Hacker, Diduga Sasar Produksi Vaksin Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)