Waspada! Begini Cara Agar Data Pribadi Tidak Bocor di Internet

Waspada! Begini Cara Agar Data Pribadi Tidak Bocor di Internet

Agus Tri Haryanto - detikInet
Sabtu, 04 Sep 2021 09:23 WIB
Ilustrasi smartphone
Waspada! Begini Cara Agar Data Pribadi Bocor di Internet. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Kasus kebocoran data marak terjadi belakangan ini, seperti dugaan data eHAC bocor sampai aplikasi PeduliLindungi untuk men-download sertifikat vaksin COVID-19. Begini cara mengamankankan data pribadi pengguna.

Seiring penggunaan layanan internet yang kian masif di era digital saat ini, tak sedikit platform yang meminta data pribadi kita, seperti nama lengkap, alamat, tanggal lahir, nomor telepon, pekerjaan, foto pribadi, dan data sensitif lainnya.

ITSEC Asia, salah satu perusahaan penyedia layanan keamanan informasi di Asia Pasifik menjelaskan bahwa penting bagi seluruh pemilik dan pengembang aplikasi maupun website untuk memiliki standar tinggi keamanan data teknologi informasi.

Hal itu untuk menutup celah keamanan yang dapat dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Akibat dari data pribadi yang tersebar, kita perlu waspada terhadap berbagai penyalahgunaan seperti penipuan melalui berbagai media, yaitu email, SMS, WhatsApp dan telepon; penjualan data untuk kepentingan marketing yang menyebabkan ketidaknyamanan, dan berbagai penyalahgunaan data informasi untuk berbagai kepentingan yang beragam," tutur Presiden Direktur ITSEC Asia Andri Hutama Putra dalam siaran persnya.

Berikut tips ITSEC Asia untuk masyarakat mengamankan data pribadi agar tidak terjadi kebocoran data:

  1. Bijak dalam menerima informasi, tidak mudah meng-iyakan informasi via telepon atau pesan yang masuk. Meskipun dia sudah memiliki dan mengetahui data kita termasuk rekam medis atau kesehatan, tidak menjadi jaminan hal tersebut bukan merupakan penipuan, selalu lakukan verifikasi. Contoh: pembuatan kartu kredit, penawaran promo, atau asuransi.
  2. Mengganti password email dan PIN untuk akses data dan aplikasi penting secara berkala, maksimal selama 3 bulan.
  3. Gunakan OTP (One Time Password) ataupun 2FA (Two Factor Authentication)
  4. Hati hati dalam menggunakan e-mail, jangan buka email atau tautan yang mencurigakan, dan manfaatkan email secara bijak.
  5. Uninstall aplikasi yang tidak terpakai. Menyeleksi aplikasi yang ada di perangkat kita, dan menghapus aplikasi yang tidak kita pakai, terutama yang sudah tidak aktif / tidak update.
  6. Mulai mengedukasi keluarga dan teman-teman terkait seberapa penting menjaga data dan bijak dalam bertukar informasi dengan pihak manapun.

Lebih lanjut Andri mengungkapkan, bagi pihak-phak yang memegang data pribadi, baik dari swasta atau pemerintah perlu lebih aktif dalam rencana tindakan preventive dan corrective untuk mengatasi dugaan kebocoran data pribadi di situs atau aplikasi.

Andri juga mengatakan perlu adanya tanggung jawab dari pihak terkait dengan melakukan notifikasi dan edukasi ke pengguna yang terdampak kebocoran data.

Sehingga masyarakat dapat mengantisipasi resiko kerugian yang lebih besar, misalnya dengan mengganti password atau pin, lebih bersikap hati-hati kalau mendapat email, SMS, atau telepon yang bisa disalahgunakan karena datanya yang sudah bocor.

"Setiap hari ada 3-5 celah keamanan baru yang dipublikasikan, dengan fakta ini seluruh pemilik dan pengembang aplikasi harus lebih memperhatikan sistem keamanan dengan cara seperti pengujian keamanan (penetration test) secara berkala untuk meminimalisir celah keamanan baru, meningkatkan kemampuan internal di aspek People, Process & Technology (PPT), dan juga menggandeng perusahaan-perusahaan yang handal dibidang keamanan IT untuk peningkatan keamanan pengamanan situs penting,," pungkasnya.



Simak Video "Laporan Kebocoran 1,3 Juta Data di Aplikasi eHAC Kemenkes"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/rns)