Sengkarut Kebocoran Data eHAC dan Hujan Kritik Publik

Round Up

Sengkarut Kebocoran Data eHAC dan Hujan Kritik Publik

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Rabu, 01 Sep 2021 06:17 WIB
Jakarta -

Publik dikagetkan dengan laporan kebocoran data 1,3 juta pengguna aplikasi eHAC. Pemerintah menegaskan itu data lama, tapi solusinya juga tanggung.

Sepanjang Selasa (31/8) kemarin polemik kebocoran data pribadi dari aplikasi eHAC Kemenkes membetot perhatian publik. Dihimpun detikINET, Rabu (1/9/2021) inilah rentetan kejadian, respons pemerintah dan kritik berbagai pihak:

1. vpnMentor ungkap kebocoran data eHAC

Semua ini diawali dari vpnMentor yang mengungkapkan telah terjadi kebocoran data pribadi yang terjadi pada aplikasi electronic Health Alert Card atau eHAC di Indonesia. Jumlahnya mencapai 1,3 juta data baik itu WNI dan orang asing yang masuk ke Indonesia.

Noam Rotem dan Ran Locar selaku bos vpnMentor menyatakan diungkapnya bocornya data tersebut adalah bagian dari usaha mereka menekan kasus semacam ini. Mereka bisa menembus rekaman data eHAC tanpa halangan karena kurangnya protokol yang ditempatkan oleh developer aplikasi.

vpnMentor melaporkan ke Kemenkes, namun tidak direspons. Google selaku host dari eHAC juga tidak menanggapi. Akhirnya Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang merespons mereka.

"Kami menghubungi badan pemerintah lain, salah satunya BSSN. Kami menghubungi di 22 Agustus dan mereka membalas di hari yang sama. Dua hari kemudian di 24 Agustus, servernya ditutup," sebut vpnMentor.

2. Memahami perbedaan eHAC Kemenkes dan PeduliLindungi

Masyarakat sempat bingung antara aplikasi eHAC Kemenkes dan fitur eHAC di aplikasi PeduliLindungi. Serupa tapi nyatanya tidak sama.

eHAC adalah singkatan dari Electronic - Health Alert Card, yaitu Kartu Kewaspadaan Kesehatan. Aplikasi eHAC awalnya dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan dan tersedia di Google Play Store.

eHAC wajib diisi oleh orang yang mau masuk ke Indonesia. Data yang dimasukan sangat lengkap dari data diri, alamat, tujuan pergi sampai hasil test COVID-19.

Sedangkan, PeduliLindungi merupakan aplikasi yang dikembangkan Kominfo, Kemenkes, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB) dan operator telekomunikasi. Aplikasi ini membantu pelacakan digital untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

Aplikasi PeduliLindungi juga sudah tersedia di Google Play Store sejak Maret 2020 dan App Store sejak April 2020. Pada aplikasi PeduliLindungi, pengguna bisa memanfaatkan fitur pantau wilayah, informasi vaksinasi dan tentunya mendownload sertifikat vaksin. Bahkan aplikasi ini juga dipakai untuk keluar masuk mal.

Dalam aplikasi PeduliLindungi juga ada fitur eHAC. Namun Menkominfo Johnny G Plate mengatakan data eHAC di PeduliLindungi beda dengan data eHAC yang bocor.

"Berdasarkan informasi yang kami terima, eHAC yang mengalami kebocoran adalah aplikasi awal yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, sebelum dialihkan ke PeduliLindungi. eHAC di PeduliLindungi saat ini masih aman" ujar Menkominfo, Selasa (31/8).

Halaman selanjutnya: Masyarakat diminta hapus eHAC dan kritik publik...