Saling Tuding Antara Bos WhatsApp dan Pembuat Pegasus

Saling Tuding Antara Bos WhatsApp dan Pembuat Pegasus

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Selasa, 27 Jul 2021 22:11 WIB
FILE PHOTO: The WhatsApp messaging application is seen on a phone screen August 3, 2017. REUTERS/Thomas White/File Photo
Foto: Dok. REUTERS/Thomas White/File Photo
Jakarta -

Laporan Amnesty International menyebut Pegasus dipakai untuk mengincar belasan ribu ponsel pribadi untuk dimata-matai. Hal ini membuat bos WhatsApp Will Cathcart angkat bicara.

NSO Group, pembuat Pegasus, tentu menepis tudingan tersebut. Mereka bersikukuh kalau Pegasus hanya dipakai untuk penegakan hukum, juga untuk memberantas terorisme.

Namun Cathcart memastikan kalau ada kesamaan antara serangan terhadap pengguna WhatsApp pada 2019 -- yang kemudian memicu gugatan WhatsApp terhadap NSO -- dengan laporan yang menyebut belasan ribu nomor telepon yang menjadi target Pegasus, termasuk Presiden Prancis Emanuel Macron.

Selain itu ada juga nomor telepon milik menteri, diplomat, aktivis, jurnalis, pegiat hak asasi manusia, dan pengacara, demikian dikutip detikINET dari The Guardian, Selasa (27/7/2021).

"Laporan itu cocok dengan apa yang kami lihat pada serangan yang kami hadapi dua tahun lalu, ini sangat konsisten dengan apa yang kami katakan waktu itu," ujar Cathcart dalam wawancara dengan Guardian.

"Hal ini harus menjadi peringatan untuk keamanan di internet. Ponsel bisa saja. menjadi aman untuk semuanya atau mereka tidak aman untuk semuanya," tambah Cathcart.

NSO pun menepis tudingan tersebut, baik soal peretasan maupun daftar target peretasan. Mereka menyebut hal tersebut tidak berbasis, dan daftar tersebut terlalu besar untuk merepresentasikan individu yang menjadi target Pegasus.

Mereka pun 'menyerang' Cathcart dengan menanyakan apakah dia punya solusi alternatif untuk menghadapi enkripsi yang dipakai oleh pedofil, teroris, dan pelaku kejahatan, yang sejatinya -- menurut NSO -- adalah target dari Pegasus.

Namun menurut Cathcart, daftar tersebut tidaklah berlebihan karena WhatsApp mencatat adanya serangan Pegasus terhadap 1.400 penggunanya dalam kurun waktu dua minggu saja, yang terjadi pada 2019 lalu.

"Hal ini memperlihatkan kalau dalam periode waktu yang lebih lama, misalnya dalam periode beberapa tahun, jumlah orang yang diserang bisa sangat banyak. Karena itulah kami merasa perlu untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hal ini," ujar Cathcart.



Simak Video "Langgar Perlindungan Data, WhatsApp Kena Denda Rp 3,8 Triliun!"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)