Hacker Iran Tunggangi Facebook Buat Retas Militer AS

Hacker Iran Tunggangi Facebook Buat Retas Militer AS

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 16 Jul 2021 10:21 WIB
Hacker di Indonesia bobol puluhan ribu data pemohon bansos AS, raup hampir setengah miliar rupiah
Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Facebook mengungkap keberadaan jaringan hacker Iran yang menggunakan platform mereka untuk meretas sejumlah personil militer Amerika Serikat.

Sindikat hacker yang dimaksud Facebook dikenal dengan nama Tortiseshell. Menurut Facebook, sindikat itu mengincar individu maupun perusahaan yang ada di industri penerbangan dan pertahanan.

Meski target utama mereka adalah orang dan perusahaan yang ada di AS, namun mereka juga mengincar beberapa orang yang berada di Inggris dan sebagian Eropa, demikian dikutip detikINET dari Engadget, Jumat (16/7/2021).

"Aktivitas mereka mempunyai ciri tertentu seperti punya sumber daya yang besar dan operasi yang gigih, juga bergantung pada langkah-langkah keamanan yang kuat untuk menyembunyikan aktor di baliknya," tulis Facebook.

"Platform kami adalah satu dari beberapa elemen yang mereka pakai untuk operasi spionase sibernya, dan aktivitas mereka di Facebook menggunakan cara rekayasa sosial dan mengarahkan korbannya ke platform lain (seperti email, messaging dan layanan kolaborasi serta situs), bukan menyebarkan malware secara langsung," tambah mereka.

Menurut Facebook sindikat tersebut punya beberapa profil yang dibuat dengan sangat detail untuk menghubungi target dan membangun kepercayaan korbannya, sebelum akhirnya membujuk korban untuk mengklik tautan berisi malwarenya.

Mereka pun punya banyak akun di berbagai platform media sosial untuk membuat akunnya terlihat lebih kredibel. Kemudian mereka juga punya situs pencari kerja palsu yang terlihat sangat meyakinkan.

Bahkan mereka pun sampai membuat situs pencari kerja tiruan milik Kementerian Tenaga Kerja AS.

Beberapa malware yang dipakai dalam aksinya dipercaya dibuat oleh Mahak Rayan Afraz, sebuah perusahaan yang punya keterikatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps.

Iran sendiri sudah sering dituding melakukan bermacam kejahatan siber selama beberapa tahun ke belakang. Salah satu yang paling besar adalah saat Microsoft menyebut Iran sebagai salah satu negara yang mencoba mengganggu Pemilihan Presiden AS 2020 lalu.



Simak Video "Canggih! Facebook Luncurkan Kacamata Pintar"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fyk)