Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Ternyata 3 dari 10 Orang RI Curhat ke AI Saat Sedih, Pakar: Bahaya

Ternyata 3 dari 10 Orang RI Curhat ke AI Saat Sedih, Pakar: Bahaya


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi Curhat ke AI
Tak Disangka! 3 dari 10 Orang RI Curhat ke AI Saat Sedih, Pakar: Bahaya Foto: detikINET via Gemini Nano Banana
Daftar Isi
Jakarta -

Kecerdasan buatan (AI) kini tak lagi sekadar alat bantu mencari informasi, belanja online, atau merencanakan liburan. Di Indonesia, AI mulai mengambil peran yang jauh lebih personal. Fakta mengejutkan terungkap, tiga dari sepuluh orang Indonesia mengaku memilih berbicara dengan AI saat merasa sedih atau tidak bahagia.

Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi dengan teknologi. AI tak hanya diposisikan sebagai asisten digital, tetapi juga sebagai teman curhat virtual, terutama di kalangan generasi muda.

Namun, para ahli Kaspersky memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat mengancam keamanan data pribadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Tren Curhat ke AI

Dalam survei global Kaspersky yang melibatkan ribuan responden dari berbagai negara, Indonesia mencatat angka cukup tinggi dalam penggunaan AI sebagai pendamping emosional. Sebanyak 31% pengguna AI di Indonesia mempertimbangkan berbicara dengan AI ketika sedang sedih, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Minat terbesar datang dari Generasi Z dan milenial, yang terbiasa menjadikan teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, AI dianggap responsif, selalu tersedia, dan tidak menghakimi-sesuatu yang terkadang sulit ditemukan dalam interaksi sosial nyata.

Sebaliknya, kelompok usia yang lebih tua menunjukkan minat jauh lebih rendah. Hanya sebagian kecil responden berusia di atas 55 tahun yang tertarik menggunakan AI sebagai tempat berbagi perasaan.

Bahaya di Balik Curhat ke AI

Kemampuan AI modern untuk merespons secara personal membuatnya terasa "manusiawi". Model AI generatif mampu merangkai kalimat empatik, memberi saran, hingga menenangkan pengguna. Hal inilah yang membuat sebagian orang merasa nyaman berbicara dengan AI saat sedang tertekan atau kesepian.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, pakar keamanan siber Kaspersky mengingatkan adanya risiko serius yang sering diabaikan pengguna. Pasalnya komunikasi dengan AI bukanlah interaksi pribadi yang sepenuhnya aman. Sebagian besar chatbot AI dimiliki oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data sendiri.

Percakapan emosional berpotensi digunakan untuk:

  • Menganalisis kondisi psikologis pengguna
  • Menyusun profil perilaku digital
  • Menargetkan iklan secara lebih agresif
  • Bahkan, dalam kasus terburuk, disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab

"AI belajar dari data, sebagian besar berasal dari internet. Artinya, ia bisa mengulang bias, kesalahan, dan asumsi yang keliru. Pengguna perlu bersikap kritis dan tidak menganggap AI sebagai pengganti manusia," ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.

Pakar menegaskan, curhat ke AI tidak sama dengan berbicara dengan psikolog atau orang terdekat. Informasi yang dibagikan-termasuk kondisi emosional, masalah pribadi, hingga detail sensitif-berpotensi tersimpan di server pihak ketiga.

Jika tidak berhati-hati, data tersebut bisa dimanfaatkan untuk Phishing dan penipuan berbasis emosi, pemerasan digital, penyalahgunaan identitas dan manipulasi perilaku pengguna

Tips Aman Jika Tetap Menggunakan AI

Meski risikonya nyata, penggunaan AI tidak sepenuhnya harus dihindari. Pakar menyarankan beberapa langkah agar tetap aman:

  • Pertama, jangan pernah membagikan data pribadi sensitif, seperti identitas, alamat, informasi keuangan, atau detail keluarga.
  • Kedua, perlakukan percakapan dengan AI seperti unggahan di media sosial publik, bukan ruang rahasia.
  • Ketiga, periksa kebijakan privasi dan opsi penonaktifan penggunaan data untuk pelatihan model AI.
  • Keempat, gunakan layanan AI dari penyedia tepercaya dan hindari bot anonim yang tidak jelas asal-usulnya.
  • Kelima, lengkapi perangkat dengan solusi keamanan digital untuk mencegah tautan berbahaya atau phishing.




(afr/afr)







Hide Ads