E-mail Tak Lagi Dipercaya Para Banker Online
- detikInet
Jakarta -
Seperti diberitakan sebelumnya, sektor keuangan terbukti sebagai sektor yang paling banyak diserang oleh para hacker jahat.Trojan tak lagi memperdayakan korbannya untuk memperlihatkan password, tapi menunggu korbannya melakukan transaksi online perbankan. Saat korban memeriksa saldo rekening mereka, secara diam-diam trojan akan 'menyedot' uang dari rekening tersebut.Menurut data yang disebutkan RSA Cyota Consumer Solutions, hampir empat dari lima orang pelanggan bank online kini mengacuhkan e-mail yang mengaku berasal dari bank mereka.Studi tahunan yang dilakukan periset pasar Infosurv mensinyalir, konsumen kini tak lagi percaya pada e-mail seperti itu. Bahkan ketidakpercayaan konsumen pada e-mail tersebut meningkat dari 70% pada 2004 menjadi 79%. Mereka menganggap e-mail itu adalah e-mail phishing.Hasil studi juga mengungkap konsumen menginginkan agar sistem perbankan online mereka dikawal. Hampir sembilan dari sepuluh orang responden mengaku tenang jika mereka dikawal saat melakukan aktivitas online. Sementara itu, 59% responden merasa bank seharusnya menghubungi mereka jika ada aktivitas mencurigakan di rekening mereka."Sangat penting menjaga kecepatan, kesederhanaan, kemudahan penggunaan dan channel banking online yang tepat," kata Chris Young, Senior Wakil Presiden dan Direktur Utama RSA Cyota Consumer Solutions, seperti dikutip detikINET dari vnunet Senin (20/3/2006).Young menambahkan, konsumen sepertinya merasa nyaman dengan ide-ide lembaga keuangan yang mau mengawasi aktivitas online pelanggannya dan menghubungi mereka jika mendeteksi sesuatu yang mencurigakan.Bank-bank kini sudah memperkenalkan sistem manajeman identitas yang lebih ketat. Namun progress-nya dinilai lamban. Kurang dari setengah dari total responden setuju dengan sistem tersebut. Dan hampir tiga perempatnya menginginkan bentuk sistem keamanan lain yang lebih handal. (dwn)
(ien/)