3 Laptop Raib di Wisma Negara
Duh, Harga Data 20 Kali Lebih Mahal dari Laptop
- detikInet
Jakarta -
Tiga unit komputer jinjing (laptop) hilang di lingkungan Wisma Negara. Kerugian yang harus diperhitungkan bukan hanya dari harga laptop, tapi juga nilai data yang tersimpan di dalamnya. Dalam sepekan terakhir, tiga unit laptop milik staf Juru Bicara Presiden dan seorang pejabat penting hilang. Kasus ini sangat memprihatinkan, mengingat lokasi kejadiannya adalah lingkungan istana, tempat presiden sehari-hari berkantor dan tinggal bersama keluarga.Kawasan yang dijaga super ketat itu, sangat disayangkan kalau sampai kemasukan maling. Terlebih, barang yang hilang berupa laptop, yang tentunya tidak hanya memiliki nilai intrinsik tinggi, tapi juga menyimpan data milik pejabat. Tentu saja ada yang penting dan rahasia di dalamnya."Dari segi kehilangan, laptop harganya paling banyak US$1.000 sampai US$2.500, itu harga tangible. Tapi harga intangible bisa mencapai 10 sampai 20 kali dari harga tangible," kata Budi Rahardjo, praktisi security dari Indonesia Computer Emergency Response Team (ID-CERT), saat dihubungi detikinet, Senin (13/3/2006). "Harga intangible tersebut berasal dari data yang tersimpan di dalam laptop," imbuhnya.Dijelaskan Budi, kehilangan laptop memang sering terjadi. "Sekitar 15 persen dari total institusi mengalaminya," ungkapnya. "Kerugian intangible-nya luar biasa. Pemilik laptop, khususnya pengguna yang high level atau yang bukan dari kalangan teknikal, sering kali tidak mengamankan datanya dengan enkripsi, padahal biasanya isinya adalah data yang konfidensial," paparnya. SaranUntuk itu, Budi menyarankan agar para pemilik laptop membiasakan diri mematuhi prosedur pengamanan data dalam laptop. Budi menyarankan agar data yang tersimpan diamankan melalui proses enkripsi."Enkripsi sebetulnya mudah, tapi reseh. Banyak orang yang enggan melakukannya karena tidak mau repot," kata Budi. "Salah satunya bisa menggunakan encription directory, yang memungkinkan orang untuk memasukkan data ke direktori enkripsi, jika ingin mengamankannya. Tapi jika tidak, bisa dikeluarkan dari direktori tersebut," paparnya.Meski cara ini bukan berarti tidak mungkin dibongkar, Budi mengatakan, usaha pengamanan biasanya menekan kemungkinan kehilangan data."Maling bisa saja membongkar enkripsinya. Tapi kalau malingnya gak mau repot, biasanya hardisknya langsung diformat, lalu laptopnya dijual," ujar Budi.Saran lain selain menggunakan enkripsi, adalah tidak membawa pergi data yang penting dan rahasia. "Data penting jangan dibawa jalan. Simpan di kantor saja," ucapnya.Disimpan di komputer desktop? "Iya. Dan kalau tidak diperlukan lagi, langsung hapus saja," tandasnya. Tiga laptop yang hilang adalah milik staf Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng dan staf Jubir Dino Patti Djalal. Satu lagi laptop yang hilang dikabarkan milik Sesmil Presiden Mayjen Bambang Sutedjo. Saat dikonfirmasi, Andi mengatakan kasus tersebut tengah ditangani secara internal.Ketiga laptop tersebut hilang pada Senin (6/3/2006) dan Rabu (8/3/2006) di Lantai 2 Wisma Negara. Tempat tersebut merupakan kantor Seskab Sudi Silalahi dan dua jubir kepresidenan.Pihak istana sangat berhati-hati dalam mengomentari kejadian ini. Sejumlah sumber mengatakan, saat ini Paspampres tengah menyelidiki hilangnya tiga laptop yang diduga berisi data penting itu. Sampai saat ini, belum diketahui motif di balik pencurian tersebut.Dugaan sementara, laptop dicuri oleh orang dalam, karena ketika hilang kedua laptop staf jubir sudah disimpan di dalam almari terkunci. Dan kedua staf tersebut sedang dalam perjalanan dari luar negeri, usai mengikuti kunjungan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (nks)
(ketepi/)