Keamanan Siber Selama 2020, IoT Jadi 'Ladang Ranjau'

Keamanan Siber Selama 2020, IoT Jadi 'Ladang Ranjau'

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Selasa, 01 Des 2020 22:35 WIB
FORT LAUDERDALE, FL - MARCH 07:  Lt. Mike Baute from Floridas Child Predator CyberCrime Unit talks with people on instant messenger during the unveiling of a new CyberCrimes office March 7, 2008 in Fort Lauderdale, Florida. One of the people on the other side of the chat told Lt. Baute, who is saying he is a 14-year-old girl, that he is a 31-year-old male and sent him a photograph of himself. According to current statistics, more than 77 million children regularly use the Internet. The Federal Internet Crimes Against Children Task Force says Florida ranks fourth in the nation in volume of child pornography. Nationally, one in seven children between the ages of 10 and 17 have been solicited online by a sexual predator.  (Photo by Joe Raedle/Getty Images)
Foto: Gettyimages
Jakarta -

2020 adalah tahun yang istimewa karena banyak tantangan keamanan siber yang dihadapi banyak pihak, salah satunya karena pandemi COVID-19.

Pandemi ini mendorong terjadinya transformasi digital di banyak sektor, yang kemudian juga meningkatkan ancaman siber. Namun semua industri tetap dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat dan memanfaatkan teknologi untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Pada periode ini, berbagai perusahaan juga telah mempercepat penerapan strategi keamanan siber demi memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap bisnis dan karyawannya yang bekerja dari kediaman masing-masing.

Digitalisasi yang cepat menyebabkan beberapa tantangan utama keamanan siber yang mempengaruhi perusahaan maupun organisasi menjadi sorotan publik, terutama ancaman keamanan siber yang muncul akibat penerapan kerja jarak jauh serta implikasi keamanan data dari aplikasi penelusuran kontak atau contact tracing serta wearable.

Palo Alto Networks pada 2019 lalu sempat memberikan prediksi soal keamanan siber di 2020. Apa saja yang menjadi kenyataan?

IoT bisa menjadi 'ladang ranjau' bagi keamanan

Munculnya lebih banyak penyusup gelap di jaringan nirkabel. Di tengah makin banyaknya produk-produk internet of things (IoT) yang memasuki pasar, berbagai ancaman siber diam-diam mengintai. Di tahun 2020, diprediksikan akan terjadi evolusi keamanan pada perangkat IoT, baik untuk personal maupun industri.

Terdapat peningkatan jenis serangan melalui aplikasi-aplikasi yang tidak aman, skema login yang lemah pada berbagai perangkat rumahan, dari kamera pantau di luar rumah yang terkoneksi, hingga sistem pengeras suara nirkabel. Ancaman ini diperburuk dengan membanjirnya teknologi deepfake serta perubahan signifikan yang terjadi pada industri manufaktur, yang merupakan salah satu pilar perekonomian di Asia.

Di samping meningkatnya kebutuhan untuk pengelolaan vulnerability IoT, lonjakan kebutuhan untuk bekerja jarak jauh akibat pandemi mendorong meningkatnya jumlah koneksi ke IoT. Hal ini tentu membawa tantangan tersendiri bagi tim keamanan siber perusahaan.

Meskipun Palo Alto Networks belum melihat munculnya jenis-jenis serangan baru, namun jenis IoT botnets, seperti Mirai akan terus berevolusi dan mengeksploitasi sejumlah vulnerabilitas baru. Sejumlah vulnerabilitas yang pernah muncul di masa lalu pada router konsumer juga banyak menjadi incaran serangan dan eksploitasi.

Makin banyaknya perundang-undangan yang mengatur privasi data dan paradoks keamanan kedaulatan data

Sebagian besar masyarakat tidak berpikir panjang pada saat menyerahkan informasi pribadi demi memperoleh manfaat yang bersifat sesaat, seperti untuk aplikasi-aplikasi yang tengah trending, game, maupun kuis-kuis online.

Untuk mengatasi masalah ini serta melindungi data penduduk, diskursus mengenai regulasi sekarang sedang mengarah kepada implementasi peraturan data pribadi yang lebih ketat di tingkat lokal, seperti peraturan yang mewajibkan agar data penduduk disimpan di negara asalnya.

Privasi data merupakan salah satu dari sedikit topik yang turut mengemuka di tengah maraknya pemberitaan mengenai COVID-19 selama 2020.

COVID-19 telah menjadikan isu tentang privasi data semakin rumit. Walaupun beberapa negara dan bisnis bersikap waswas terhadap aplikasi serta peralatan yang memfasilitasi contact tracing, mereka juga menerimanya sebagai sebuah keharusan.



Simak Video "Suara Desahan Muncul di Diskusi Virtual Ancaman Siber"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)