Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
AI Pemburu Judol
Dibuat Hanya 7 Jam, AI Ini Bisa Temukan Situs Judi Online
AI Pemburu Judol

Dibuat Hanya 7 Jam, AI Ini Bisa Temukan Situs Judi Online


Adi Fida Rahman - detikInet

Tim GambitHunter
Dibuat hanya 7 Jam, AI ini bisa temukan situs judi online (Foto: dok Pribadi)
Jakarta -

Proyek AI pemburu judi online bernama GambitHunter yang dibuat oleh tiga engineer asal Indonesia ternyata lahir dalam waktu yang sangat singkat. Sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut dikembangkan hanya dalam sekitar tujuh jam saat mengikuti OpenAI Codex Hackathon di Singapura.

Meski dibuat dalam waktu terbatas, teknologi ini mampu melakukan tugas yang cukup kompleks, yakni menjelajah internet untuk menemukan situs judi online dan mengekstrak informasi penting seperti rekening yang digunakan bandar untuk menerima deposit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

GambitHunter dikembangkan oleh Steven Sukma Limanus, Ilham Firdausi Putra, dan Reynaldo Wijaya Hendry. Proyek tersebut berhasil menarik perhatian juri dan membawa tim ini meraih juara kedua dalam kompetisi hackathon OpenAI.

Menurut tim pengembang, kemajuan teknologi AI saat ini membuat proses pembuatan perangkat lunak menjadi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Tools berbasis AI dapat membantu developer menulis kode, menguji logika program, hingga mempercepat proses eksplorasi ide.

"Kami melihat ada peluang untuk membantu mengurangi permasalahan judi online menggunakan teknologi AI yang berkembang sangat pesat akhir-akhir ini," kata Ilham Firdausi Putra.

Tim GambitHunterTim GambitHunter Foto: Dok OpenAI

Dalam hackathon tersebut, tim memanfaatkan pendekatan AI agent, yaitu sistem AI yang dapat menjalankan berbagai tugas secara otomatis. Agen ini dirancang untuk menjelajah internet dan mengumpulkan daftar situs yang berpotensi menjadi platform judi online.

"Iya, kita menggunakan AI untuk hal tersebut. Jadi agen eksplorasi ini akan mencoba mengumpulkan daftar situs judol potensial sebanyak mungkin, lalu menggunakan model AI untuk mengklasifikasikan apakah website tersebut benar-benar situs judi online," jelas Reynaldo Wijaya Hendry, yang akrab disapa Rey.

Namun pendekatan yang digunakan GambitHunter tidak berhenti pada tahap menemukan domain situs saja. Tim pengembang sengaja menargetkan rekening bank bandar judi sebagai titik utama investigasi.

Menurut Ilham, pemblokiran domain selama ini sering tidak efektif karena situs judi online dapat dengan mudah berganti alamat. Ia menggambarkannya seperti permainan whack-a-mole, di mana satu domain diblokir tetapi banyak domain baru langsung muncul sebagai penggantinya.

"Memblokir domain itu seperti permainan whack-a-mole. Blokir satu domain, sepuluh mirror bisa muncul di hari yang sama. Domain mudah dibuat, tapi rekening bank tidak," ujarnya.

Karena itu GambitHunter mencoba masuk satu level lebih dalam dengan menelusuri halaman pembayaran yang digunakan pemain untuk melakukan deposit. Dari halaman tersebut, sistem AI dapat mengekstrak berbagai informasi penting yang berkaitan dengan transaksi.

"Sistem ini bisa mengekstrak nomor rekening atau nomor HP yang digunakan bandar untuk menerima deposit," ujar Steven Sukma Limanus.

Selain itu, GambitHunter juga mampu mengambil tangkapan layar halaman pembayaran yang berisi informasi transaksi. Data tersebut dapat menjadi bukti tambahan untuk membantu mengidentifikasi jaringan judi online yang beroperasi di internet.

Tim GambitHunterTim GambitHunter Foto: Dok OpenAI

Meski terlihat sederhana, pengembangan sistem ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Salah satu tantangan teknis yang mereka hadapi adalah beberapa situs judi online menggunakan CAPTCHA untuk melindungi halaman dari bot atau sistem otomatis.

"Beberapa situs menggunakan captcha untuk melindungi website mereka. Kami hampir berhasil mengatasinya dengan bantuan layanan eksternal, tetapi karena waktu hackathon sangat terbatas, fitur tersebut belum sempat kami sempurnakan," kata Rey.

Selain tantangan teknis, tekanan waktu selama hackathon juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Steven mengatakan momen menegangkan hampir selalu muncul karena seluruh proyek harus selesai dalam waktu yang sangat singkat. Meski demikian, setiap anggota tim sudah mengetahui tugas masing-masing sehingga proses pengembangan tetap berjalan terkontrol.

Momen paling panik justru terjadi menjelang batas waktu pengumpulan proyek. Dalam kompetisi tersebut peserta tidak hanya harus mengirimkan kode, tetapi juga video presentasi singkat berdurasi dua menit.

"Ketika deadline submisi datang, kami harus menyerahkan kode dan video singkat dua menit yang menjelaskan produknya. Sisa 20 menit, kami belum memiliki video," kata Ilham.

Ia pun langsung berlari ke gedung sebelah untuk mencari tempat yang sunyi agar bisa merekam video presentasi. Proses rekaman dilakukan dengan sangat tergesa-gesa.

"Saya merekam berkali-kali dan video yang kami kirim sebenarnya adalah rekaman terakhir yang mulai direkam sekitar pukul 5:57, tepat tiga menit sebelum submission ditutup," ujarnya.

Bagi tim pengembang, proyek GambitHunter juga menunjukkan bagaimana teknologi AI mulai mengubah cara developer bekerja. Dengan bantuan AI coding agent dan model seperti OpenAI Codex, proses pengembangan perangkat lunak dapat berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Jika sebelumnya pengembangan software membutuhkan waktu panjang, kini developer dapat lebih fokus pada ide dan logika sistem, sementara sebagian proses teknis dapat dibantu oleh AI.

Meski awalnya dibuat sebagai proyek hackathon, tim pengembang melihat pendekatan seperti GambitHunter memiliki potensi besar untuk membantu mengatasi berbagai masalah di dunia digital.

"Kami ingin menunjukkan bahwa AI bisa digunakan untuk membantu memecahkan masalah nyata di masyarakat," ujar tim pengembang.

Ke depan, teknologi berbasis AI agent seperti ini diperkirakan akan semakin banyak digunakan untuk mendeteksi berbagai aktivitas ilegal di internet, mulai dari penipuan digital hingga jaringan kejahatan siber lainnya.




(afr/fay)








Hide Ads